Terapi CAPD Lebih Efisien untuk Penyakit Gagal Ginjal

0
294
Terapi CAPD Lebih Efisien Untuk Penyakit Gagal Ginjal
Terapi CAPD Lebih Efisien Untuk Penyakit Gagal Ginjal

LEBIH CEPAT – Komplikasi Penyakit Ginjal Kronik (PGG) tidak hanya membutuhkan biaya perawatan mahal namun juga risiko ajal yang tinggi. Terapi untuk gagal ginjal kronik mencakup transplantasi ginjal, hemodialisis (HD) dan Continous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD) atau sering disebut peritoneal dialisis.

Diantara ketiganya, CAPD diniai lebih efisien dari segi biaya. Sebabnya, dengan metode peritoneal dialisis atau basuh darah sendiri dalam perut, pasien melaksanakan basuh darah secara berdikari dan tidak perlu ke rumah sakit.

Ketua Pusat Kajian Kebijakan dan Ekonomi Kesehatan (PKKEK) FKM UI, Prof Budi Hidayat SKM MPPM PhD mengatakan, studi dari Komite Penilaian Teknologi Kesehatan (KPTK) Kementerian Kesehatan (Kemkes) dan PKEKK FKM UI juga menguatkan fakta bahwa CAPD lebih efektif dari segi biaya dibanding HD.

“Fakta bahwa CAPD lebih cost efficient dibandingkan HD, dan juga meningkatkan kualitas hidup pasien. Pada kenyataannya, jumlah pasien CAPD hanya 3 persen dari total 95 persen pasien yang menjalani HD,” ungkap Budi.

Budi menambahkan, ada beberapa hal yang menjadi akar permasalahan; meski ditanggung BPJS, namun tidak ada intervensi sistem insentif dalam bagan pembayaran. Kedua, rendahnya suplai cairan CAPD akhir monopoli yang terjadi oleh satu pemasok, yaitu Baxter. Saat ini, Fresenius Medical Care sebagai penyedia masih menunggu nomor pendaftaran cairan CAPD dikeluarkan oleh BPOM. Ketiga, rendahnya edukasi mengenai CAPD terhadap pasien.

Ketua Perhimpunan Nefrologi Indonesia (Pernefri), dr Aida Lydia PhD Sp PD-KGH mengatakan, masih banyak yang perlu dibenahi khususnya fasilitas bagi pasien dialisis menerima layanan yang berkualitas baik melalui hemodialisis maupun CAPD sebagai salah satu alternatif terapi pengganti ginjal yang mampu meningkatkan kualitas hidup pasien GGK. “Sekaligus menjadi solusi pengendalian biaya kesehatan negara. Saat ini hanya ada satu penyedia CAPD di Indonesia,” jelasnya.

BACA JUGA:  Cara Mengobati Penyakit Ginjal

Ditambah, lanjut dia, dengan belum siapnya sistem distribusi dan rendahnya edukasi baik kepada pasien dan dokter menjadikan pertumbuhan jumlah pasien CAPD dari tahun ke tahun sangat lambat.

Kenyataan ini diperkuat dengan data IRR edisi 10 tahun 2017 yang gres saja diluncurkan oleh Pernefri Oktober 2018, pertumbuhan CAPD dari tahun ke tahun menawarkan pada tahun 2015 sejumlah 1674 pasien, 2016 menurun menjadi 1594, dan di tahun 2017 tercatat 1737 pasien.

Direktur Pelayanan Kesehatan Rujukan Kemkes, dr Tri Hesty Widyastoeti SpM MPH menambahkan, dikala ini pihaknya sedang menjalankan sebuah uji coba peningkatan cakupan pelayanan CAPD di Jawa Barat, yang alhasil dibutuhkan di tamat tahun 2018 dan mampu menjadi sebuah acuan untuk kebijakan nasional.

“Program yang kami inisiasi ini dibutuhkan mampu menjadi salah satu solusi pengendalian biaya hemodialisa. Target kami yaitu meningkatkan jumlah pasien CAPD dari 3 persen menjadi 30 persen,” pungkasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here