Jokowi: Guru Tak Bisa Diganti Mesin

0
243
Jokowi Guru Tak Bisa Diganti Mesin
Jokowi Guru Tak Bisa Diganti Mesin

LEBIH CEPAT – Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyatakan kemajuan teknologi ketika ini tak bisa menggantikan kiprah guru. Guru tidak bisa digantikan dengan mesin. Oleh alasannya ialah itu, guru harus bisa membangun khayalan dan kreativitas belum dewasa Indonesia.

Hal tersebut disampaikannya dalam pidato pada peringatan Hari Guru Nasional dan HUT ke-73 Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) di Stadion Pakansari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu (1/12).

Pemerintah, lanjutnya, berkomitmen mengatasi kekurangan guru di daerah. Pemerintah akan melaksanakan perekrutan guru secara sedikit demi sedikit dan berkelanjutan yang diadaptasi dengan kemampuan APBN.

“Ada 112. 000 guru yang kita rekrut tahun ini. Kita juga sudah menerbitkan PP Nomor 49 Tahun 2018 perihal Manajemen Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K). Namun banyak yang belum bisa jawab di sini. Minggu depan akan saya undang ketua umum PGRI dan perwakilan guru untuk membahas mengenai guru,” katanya.

Pada kesempatan itu, Jokowi menyatakan pemerintah juga akan menggeser pembangunan infrastruktur menjadi pembangunan sumber daya insan (SDM). Pembangunan SDM yang menjadi prioritas utama membuat guru harus menjadi distributor penguatan bakat anak bangsa.

“Guru dituntut untuk meningkatkan kualitas dan kompetensinya sesuai pendidikan periode ke-21. Peran guru harus lebih dari mengajar, juga mengolah berguru siswa,” katanya.

Presiden juga berjanji menyederhanakan proses sertifikasi guru dan juga manajemen yang selama ini dirasa berbelit. “Ini masih kita urus biar bisa berjalan cepat dan lebih sederhana. Pokoknya ahad depan saya ingin bertemu dengan ketum PGRi dan guru untuk membahas kasus ini,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Umum Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Unifah Rosyidi mengatakan, kasus guru yang selalu diperjuangkan oleh PGRI ialah biar ada pembenahan terhadap problem utama guru dalam melaksanakan kiprah administrasi. Pasalnya, para guru masih mengeluhkan manajemen yang berbelit-belit, serta rumitnya penyaluran santunan profesi guru (TPG) dan penyelesaian guru honorer.

“Mengingat tidak semua guru honorer berkesempatan mengikuti tes CPNS alasannya ialah hambatan persyaratan usia, kami sangat menantikan PP P3K diterbitkan dan semoga menjadi kado Hari Guru Nasional dan HUT PGRI tahun 2018. Selain itu, kami menyadari masih banyak acara usaha guru, baik negeri, swasta, tetap, dan tidak tetap, yang harus secara konsisten diperjuangkan PGRI,”ujarnya.

BACA JUGA:  Istimewa, Jemaah Haji Indonesia Disambut Putra Raja Salman

Selain itu, PGRI untuk menuntut kembalinya mata pelajaran informatika sebagai pengganti mata pelajaran TIK yang sempat terhapus. Masalah mata pelajaran bahasa asing, desentralisasi urusan kenaikan pangkat ke daerah, dan penyelesaian bermacam-macam problem yang dirasakan guru, akan terus diperjuangkan PGRI biar guru-guru sanggup berdaulat dan bermartabat, serta fokus mengajar.

Dalam era revolusi 4.0 ini, lanjutnya, sistem pendidikan nasional dihadapkan pada tantangan yang sangat kompleks, tetapi menarik. Oleh alasannya ialah itu, PGRI sebagai organisasi profesi juga ditantang untuk bisa menggerakkan guru, pendidik, dan tenaga kependidikan, untuk menunjukkan andil dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah. PGRI juga terpanggil melahirkan pemikiran transformatif dalam pengembangan kebijakan pemerintah, pengelolaan acara pembangunan di pusat dan daerah, serta melahirkan banyak sekali gagasan dan tindakan inovatif sesuai tantangan periode ke-21.

Terkait hal itu, ada tiga hal yang perlu menerima perhatian. Pertama, penemuan pembelajaran dalam jaringan (daring) yang dirancang terbuka, saling berbagi, terhubung atau berjejaring satu sama lain. Dengan prinsip ini, setiap orang akan memanfaatkan teknologi secara produktif.

Kedua, mesin kecerdasan buatan yang dirancang untuk melaksanakan pekerjaan spesifik dalam membantu tugas-tugas keseharian manusia. “Di bidang pendidikan, artificial intelligence membantu pembelajaran secara individual, yang bisa melaksanakan pencarian gosip dan menyajikannya dengan cepat, akurat, dan interaktif. Perkembangan teknologi mengubah secara mendasar acara belajar-mengajar. Ruang kelas mengalami evolusi ke arah contoh pembelajaran digital yang membuat pembelajaran lebih kreatif, partisipatif, beragam, dan menyeluruh,” ujarnya.

Ketiga, guru mempunyai kiprah penting dalam kontekstualisasi gosip serta membimbing penerima didik dalam diskusi daring. Pembelajaran multi-stimulan akan lebih menyenangkan dan menarik. “Dengan perkembangan ilmu dan teknologi, kiprah guru berubah dari semula menjadi pemberi pengetahuan menjadi mentor, fasilitator, motivator, inspirator, serta pengembang imajinasi, kreativitas, nilai-nilai karakter, team work, dan tenggang rasa sosial, alasannya ialah nilai-nilai itulah yang tidak sanggup diajarkan oleh mesin,” ujarnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here