Presiden Minta Aparat Serius Tangani Pembalakan Liar

0
186
Presiden Minta Aparat Serius Tangani Pembalakan Liar
Presiden Minta Aparat Serius Tangani Pembalakan Liar

LEBIH CEPAT – Presiden Joko Widodo meminta pegawanegeri keamanan serius dalam menangani pembalakan liar yang masih terjadi di Provinsi Jambi.

“Tolong ditertibkan Pak Kapolda, tidak ada pembiaran sudah,” kata Presiden Joko Widodo di Taman Hutan Pinus Kenali, kota Jambi, Minggu (16/12).

Presiden memberikan hal itu dalam program penyerahan surat keputusan (SK) Perhutanan Sosial. Hadir juga dalam program tersebut Ibu Negara Iriana Joko Widodo, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution, Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup Siti Nurbaya Bakar.

“Di semua provinsi masih ada (pembalakan liar). Itu tugasnya pegawanegeri aturan dan kepolisian,” tambah Presiden.

Keluhan mengenai pembalakan hutan itu muncul dari salah satu petani di kabupaten Tebo berjulukan Zulkipli.

“Saya minta pembalak liar, cukong yang merajalela untuk ditindak Pak, jangan ada pembiaran,” kata Zulkipli dalam obrolan dengan Presiden dalam program tersebut Zulkipli yaitu pemimpin salah satu koperasi di kabupaten Tebo yang mendapatkan 500 hektare perhutanan sosial yang selama ini ia tanami jengkol dan petai.

“Saya sudah berapa kali me-WA (mengirimkan whatsapp) ke ibu menteri alasannya yaitu aku punya WA ibu menteri (Siti Nurbaya),” tambah Zulkipli.

“Wah itu sudah bagus, mampu WA bu Menteri, tidak ada pembiaran,” balas Presiden.

“Saya ini ketua petani Nasdem provinsi jambi, aku kan juga menjaga hutan,” kata Zulkipli.

“Hooo, aku tidak tahu, hooo,” ungkap Presiden.

“Saya sudah kirim surat ke Pak Kapolda, sudah aku surati Kapolres, hingga Mabes Polisi Republik Indonesia tolong ditertibkan,” tegas Zulkipli.

Zulkipli juga masih meminta pelengkap lahan 2000 hektare perhutanan sosial yang rencananya akan ditanami manggis.

“Saya minta bibit manggis Pak, kok Sumbar (Sumatera Barat) mampu maju, Jambi kok tidak bisa? Saya minta 2.000 hektare hanya untuk manggis,” tambah Zulkipli.

BACA JUGA:  Perbaikan Jalan di Tol Jakarta-Cikampek Hingga Lima Hari ke Depan

“Pak Zul benar, ekspor manggis tinggi sekali, Jepang minta, China minta, tinggi sekali tapi tidak tidak mampu mengirimkan manggis alasannya yaitu (memproduksi) sawit semua, padahal sangat cantik sekarang. Bu menteri cek dulu, cek lapangan ini koperasinya, kita bahagia beri (lahan) ke rakyat, tapi jika ditelantarkan ya sudah,” tegas Presiden.

Masalah pembalakan liar juga disampaikan oleh petani dari kabupaten Kerinci, Jambi berjulukan Abdul Haris yang menanam buah kepayang atau buah kluwuk yang lazim ditemukan di Pulau Jawa.

“Di lagu pun ada yang menyampaikan mabuk kepayang, di zaman dulu di Jambi, sumber minyak sawit dan minyak kelapa sulit, jadi masyarakat jambi mengambil minyak kepayang untuk masak sayur, untuk mengurangi lemak, jika bandingkan minyak sawit mungkin 10-15 kali lipat harganya tapi ketersediaan minyak kepayang sulit alasannya yaitu tidak ada yang mau tanam lagi,” kata Abdul Haris.

Tapi ia meminta disediakan bahtera untuk objek wisata alam supaya mampu menjadi objek turisme mirip kegiatan mancing mania.

“Kami minta pinjaman Rp1 juta-Rp2 juta per bulan untuk warga berpatroli hutan alasannya yaitu tidak sedikit yang menjarah hutan baik individu maupun pihak lain, memang kita sama-sama Indonesia tapi lain provinsi,” kata Abdul Haris.

“Urusan jaga hutan ke bu menteri kehutanan, jangan ke saya,” tambah Presiden.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here