SMS Penipuan Masih Marak, Efektifitas Registrasi SIM Card Dipertanyakan

0
129
SMS Penipuan Masih Marak, Efektifitas Registrasi SIM Card Dipertanyakan
SMS Penipuan Masih Marak, Efektifitas Registrasi SIM Card Dipertanyakan

LEBIH CEPAT – Aturan pendaftaran kartu prabayar yang divalidasi dengan Nomor Induk Kependudukan (NIK) dan Nomor Kartu Keluarga (KK) ternyata belum menutup peluang penggunaan nomor SIM Card secara tidak bertanggungjawab, contohnya digunakan untuk mengirim pesan yang mengganggu dan tidak dikehendaki (spam) yang diindikasikan penipuan.

Komisioner Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI), Ketut Prihadi Kresna menyampaikan, implementasi pendaftaran pelanggan jasa telekomunikasi memang tidak akan sepenuhnya menghilangkan adanya panggilan atau SMS penipuan. Karenanya, BRTI terus mencari cara biar tidak ada lagi perbuatan yang tidak bertanggung jawab tersebut.

“Aturan pendaftaran SIM Card ini kan salah satu upaya saja supaya kita tahu data yang benar dari pemiliknya. Kalau ternyata masih juga disalahgunakan, kita akan mencari celahnya supaya mampu segera ditutup,” kata Ketut Prihadi, di gedung Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo), di Jakarta, Jumat (28/12).

Menurut Ketut, maraknya penipuan melalui panggilan telepon atau SMS dikarenakan masih adanya penggunaan NIK dan KK orang lain ketika melaksanakan registrasi. Data-data penting tersebut ketika ini begitu gampang didapatkan di Internet.

“Penyalahgunaan data orang lain ketika melaksanakan registrsi memang masih banyak terjadi. Padahal itu melanggar Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) maupun Undang-undang Administrasi Kependudukan,” ujar Ketut.

Guna menutup ruang bagi orang-orang yang kerap mengirimkan SMS penipuan, Ketut memberikan BRTI telah melaksanakan optimalisasi susukan pengaduan yang ketika ini tersedia, sehingga keluhan pelangan terhadap penyalahgunaan jasa telekomunikasi mampu ditangani dengan baik. Selain melalui call center BRTI 159, aduan kini juga mampu disampaikan melalui twitter @aduanbrti.

Prosedurnya adalah, pelanggan yang mendapatkan panggilan atau pesan yang diindikasikan penipuan diminta untuk merekam percakapan atau memfoto (capture) pesan serta nomor telepon seluler pemanggil atau pengirim pesan tersebut, kemudian dikirim ke twitter BRTI @aduanbrti. Petugas dari BRTI nantinya akan melaksanakan verifikasi dan analisa percakapan atau pesan tersebut untuk selanjutnya dikoordinasikan kepada operator telekomunikasi.

BACA JUGA:  Sebar Hoaks Gempa Jawa, IRT Sidoarjo ini Ditangkap Polisi

“Untuk nomor telepon yang terbukti digunakan untuk melaksanakan tindak penipuan, kami akan koordinasikan kepada pihak operator biar segera dilakukan pemblokiran. Optimalisasi susukan pengaduan ini gres berjalan sekitar satu bulan. Akan kita penilaian terus jadinya mirip apa. Paling tidak kini ini sudah ada upaya pendaftaran dan juga penanggulangan,” jelas Ketut.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here