Perjuangan menerima Selembar Tiket Indonesia Masters

0
220
Ganda Putra Indonesia Marcus Fernaldi Gideon (kanan) Dan Kevin Sanjaya Sukomuljo Berusaha Mengembalikan Kok Ke Ganda Putra Denmark Kim Astrup Dan Anders Skaarup Rasmussen Saat Pertandingan Semifinal Daihatsu Indonesia Masters 2019 Di Istora Senayan, Jakart
Ganda Putra Indonesia Marcus Fernaldi Gideon (kanan) Dan Kevin Sanjaya Sukomuljo Berusaha Mengembalikan Kok Ke Ganda Putra Denmark Kim Astrup Dan Anders Skaarup Rasmussen Saat Pertandingan Semifinal Daihatsu Indonesia Masters 2019 Di Istora Senayan, Jakart

LEBIH CEPAT – Adu lisan yang nyaris berakhir berkelahi jotos, teriakan histeris wanita muda yang terjepit di antara ratusan orang antre, mewarnai suasana di depan loket Istora Senayan Jakarta, Minggu (27/1) pagi.

Mereka yakni para calon penonton yang antusias ingin menyaksikan final turnamen bulutangkis Indonesia Masters, di mana tuan rumah Indonesia meloloskan tiga wakil, termasuk ganda adonan Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir (Owi/Butet). Dua wali lainnya akan saling berhadapan di final yakni di nomor ganda putra, Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo melawan Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan.

Pemicu keributan yakni para calo yang berusaha menangguk di air keruh, dan seenaknya menyalip antrean paling depan. “He…kamu, si muka tembok, kok seenaknya nyalip. Kamu tahu nggak jika saya ini sudah antre dari pukul 05:00 subuh, ” kata seorang wanita muda berjilbab dengan penuh emosi kepada lelaki paruh baya yang bangun persis di depannya.

Lelaki bertopi yang diteriaki tersebut sama sekali tidak bereaksi, tidak merasa bersalah. Jam ketika itu memperlihatkan pukul 08.00 dan berarti wanita asal Tanjung Priok tersebut sudah antre selama tiga jam.

Selama itu pula wanita yang mengaku berjulukan Adel itu harus melawan kantuk dan gerimis yang semenjak subuh menyiram tempat Senayan. Teriakan Adel tanpa dikamando eksklusif diikuti calon penonton lain, menciptakan suasana yang tadinya hening mendadak gaduh.

Rasa kesal, stres alasannya harus mengantre tiket semenjak subuh menciptakan calon penonton mudah tersulut emosi. Seorang laki-laki berbadan tegap dan berusia sekitar 30-an, terlihat berkelahi lisan dan hampir saja menghajar seorang laki-laki yang diyakini calo alasannya tiba-tiba menyalip antrean.

“Memangnya saya tidak hapal wajah kamu. Tadi tidak ikut antre, kok tiba-tiba sudah di depan saya. Dasar tidak tahu diri, ” kata Adel yang bertubuh mungil, tetapi semakin berani alasannya menerima perlindungan dari calon penonton lain yang merasa senasib.

BACA JUGA:  Messi dan Ibrahimovic Bersaing di Puskas Award 2019

Beberapa petugas keamanan berseragam kaos merah pun secara paksa menarik calo tersebut dari antrean. Sementara itu, Adissa, seorang pelajar Sekolah Menengah Pertama dari Pondok Ranji, terlihat mengawasi dari luar antrean yang mengular ratusan meter. “Saya diantar paman saya dan ia yang bantu mengantre,” kata Adissa yang hingga di lokasi sekitar pukul 06:00.

Kebijakan panitia yang membatasi tiket maksimal dua tiket perorang sepertinya cukup efektif mengatasi calo yang berkeliaran. Bentuk fisik tiket yang berbeda dari tiket pada umumnya, yaitu berupa gelang yang eksklusif dipasang pada calon penonton, menciptakan calo tidak berkutik.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here