Theti Numan, Srikandi Gambut dari Mantangai, Kalteng

0
61
Theti Numan, Srikandi Gambut Dari Mantangai, Kalteng
Theti Numan, Srikandi Gambut Dari Mantangai, Kalteng

LEBIH CEPAT – Jangan pernah meremehkan gender perempuan. Saat perubahan iklim membawa efek besar pada bumi, mereka ada di garda terdepan sebagai penjaga keseimbangan alam. Theti Numan Agau yaitu perempuan penjaga wilayah gambut dari Mantangai, Kalimantan Tengah. Theti menggalang upaya kolektif pertanian lahan gambut yang ramah lingkungan.

Theti yaitu perempuan Dayak ini tinggal di Desa Mantangai Hilir, Kecamatan Mantangai, Kabupaten Kapuas. Lahan gambut banyak tersebar di Kalteng, daerah Theti tinggal. Kalteng merupakan salah satu wilayah yang mengalami tragedi kebakaran hutan dan lahan parah pada tahun 2015 silam.

Selama berbulan-bulan, ketika kebakaran, Theti mengaku susah bernapas, susah untuk melaksanakan aktivitas, termasuk bekerja. Otomatis, selama kebakaran ini, ia hanya mengandalkan sisa-sisa panen terdahulu. Petani di Indonesia terbiasa melaksanakan pembakaran lahan gambut untuk menyuburkan tanah.

Kebakaran besar yang terjadi pada tahun 2015 di beberapa provinsi di Kalimatan, menciptakan Badan Restorasi Gambut (BRG) mulai mengadakan pendekatan ke beberapa tokoh petani di desa-desa kunci. Pendekatan itu membuka kesadaran akan ancaman pembakaran lahan. BRG juga melaksanakan edukasi untuk pertanian yang ramah lingkungan. Salah satu petani yang ada dalam acara inisiasi BRG yaitu Theti Numan Agau.

Sebelum menjadi petani binaan dari BRG, Theti mengelola lahan kecil daerah ia menanam padi. Setiap tahun, ia bisa panen 30 karung beras. Diakui, hasil panen hanya cukup untuk makan saja selama setahun.

Untuk lauk dan kebutuhan lain, Theti harus bekerja serabutan mirip menyadap karet dan mencari ikan. Hasil kerja serabutan ini juga terhitung lebih melelahkan dan hasil yang tidak menentu.

“BRG menciptakan Pelatihan Sekolah Lapang selama 10 hari. Di sana kami diajarkan metode pertanian ramah lingkungan untuk menyuburkan lahan. Kami tidak lagi memperabukan lahan dan diajarkan untuk menciptakan pupuk alami,“ ujar Theti.

BACA JUGA:  Bima Arya: Hidup ini Pilihan, Saya Pilih Maju!

Demplot

Melalui Sekolah Lapang dibangun Mini Demplot Pengolahan Lahan Tanpa Bakar (PLTB) yang dikelola para kader. Mereka membentuk kelompok pengelola demplot.

“Dalam satu kelompok, ada 10 petani. Tadinya jumlah ini terbagi rata, yaitu lima laki-laki dan lima perempuan. Namun perjuangan ini kurang menerima sambutan dari petani pria. Saya mengubah komposisi kelompok menjadi 10 perempuan dan semua berjalan dengan lancar,” terang Theti.

Di lahan demplot, Theti dan kelompoknya bertanam tomat, cabai, dan kacang panjang. Hasil ini diakui Theti mengalami kenaikan. Jika dulu, hasil pertanian hanya cukup untuk dimakan sendiri, ia kini mulai bisa menjual hasil pertaniannya dan mulai menabung

Dalam pendampingan masyarakat, BRG menyadari pentingnya tugas perempuan dalam menjaga gambut. Sampai ketika ini, ada 773 anggota kelompok perempuan yang telah didampingi oleh BRG.

“BRG menyadari pentingnya tugas para perempuan dalam menjaga ekosistem gambut. Kami percaya bahwa bila perempuan diberdayakan, maka akan sanggup mendorong perubahan besar dalam sikap dan sikap melindungi,” kata Myrna A. Safitri, Deputi Bidang Edukasi, Sosialisasi, Partisipasi dan Kemitraan BRG.

Jumlah ini dibutuhkan sanggup ditingkatkan seiring waktu. Selain pertanian, kelompok perempuan ini juga diberi keterampilan untuk meningkatkan nilai tambah/jual pada produk kerajinan anyaman yang dibentuk dari rumput atau tumbuhan yang banyak tumbuh di lahan gambut. Para perempuan ini telah bisa menciptakan anyaman menjadi tas, topi, placemats, keranjang, tikar dan dompet yang siap dipasarkan.

“Kita tidak sanggup bicara wacana ketahanan pangan, wacana generasi emas bila soal pemenuhan nutrisi di tingkat keluarga diabaikan. Perempuan-perempuan kader sekolah lapang di lahan gambut memperlihatkan bagaimana mereka berjuang untuk itu. Larangan pembakaran dalam pertanian gambut dijawab dengan solusi PLTB yang berbasis pada kebutuhan nutrisi keluarga,” tambah Myrna

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here