Bappenas Diminta Tinjau Ulang Rencana JICA Bangun Tanggul Tsunami di Teluk Palu

0
145
A Toilet, The Only Part Of A House Remaining After It Was Hit By Last Week's Earthquake And Tsunami, Is Seen At Mamboro Beach Neighbourhood In Palu
A Toilet, The Only Part Of A House Remaining After It Was Hit By Last Week's Earthquake And Tsunami, Is Seen At Mamboro Beach Neighbourhood In Palu

LEBIH CEPAT – Pasigala Centre, sebuah koalisi Masyarakat Sipil yang peduli pada penanganan korban tragedi Palu, Sigi, Donggala (Pasigala), meminta Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) mempertimbangkan dan meninjau kembali planning Japan International Coorporation Agency (JICA) membangun tanggul sepanjang 7,5 kilometer (km) dengan tinggi tiga meter di wilayah Teluk Palu, pascabencana gempa bumi disertai tsunami melanda daerah itu, pada 28 September 2018.

Tanggul tersebut direncanakan membentang dari Kelurahan Silae, Kecamatan Ulujadi sampai ke tempat penggaraman Pantai Talise, Kecamatan Palu Timur, Kota Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng).

“Rencana tanggul tujuh kilometer dan tinggi tiga meter untuk mencegah tsunami di Teluk Palu harus ditinjau kembali. Selain terlalu mahal, alasan potensi gagal teknis juga besar sekali,” kata Sekretaris Jenderal (Sekjen) Pasigala Centre.

Andika menyebutkan, hasil penelitian berdikari yang dilakukan akademisi Universitas Tadulako (Untad), membuktikan bahwa terdapat sekitar 40 hektare lokasi mengalami penurunan muka tanah di pesisir pantau atau downlift dan terjadi kenaikan muka tanah atau uplift pada peristiwa gempa 28 September 2018.

“Hasil penelitian memberikan bahwa kondisi tanah di Teluk Palu sangat labil dan gampang bergerak dan longsor. Jika tanggul dipaksakan, kami khawatir justru ini akan berbahaya dan potensi gagal tekhnisnya sangat besar, mirip peristiwa tumbangnya jembatan IV. Dan tentu, itu akan jadi malapetaka bagi penduduk Kota Palu alasannya teluk akan jadi mirip bak renang raksasa,” ujar Andika.

Dia berharap Bappenas bisa mencari alternatif lain dalam konteks mitigasi tsunami dengan mengambil unsur-unsur dan potensi lokal yang lebih murah, minim resiko.

“Banyak potensi dan unsur lokal yang jauh lebih murah untuk mitigasi tsunami mirip hutan mangrove. Kasus Kabonga besar di Donggala yang bisa menahan tsunami ialah best practice,” papar Andika.

BACA JUGA:  Panas, Pogba Kritik Balik Roy Keane

Diketahui, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) telah menyusun planning penataan infrastruktur di sepanjang Pantai Talise Kota Palu. Salah satunya ialah planning pembangunan tanggul untuk penahan gelombang tsunami setinggi tiga meter.

Rencana itu mengemuka dalam pertemuan Gubernur Sulteng Longki Djanggola bersama Kepala Satuan Tugas (Satgas) Bidang Infrastruktur PUPR, Ari Sutiadi, Rabu (2/1) di Kantor Gubenur Sulteng.

Di hadapan gubernur, secara garis besar Ari Sutiadi menerangkan desain planning pembangunan tanggul penahan tsunami di sepanjang Pantai Talise Kota Palu

Tanggul itu menurutnya akan dibangun dari tumpukan material bebatuan. Ketinggiannya berdasarkan ia disamakan dengan permukaan air tertinggi dikala terjadi pasang, atau setinggi kurang lebih tiga meter.

“Selain itu tanggul juga akan dilapisi materi biosintetik yang kedap air,” ujarnya.

Pembangunan tanggul menurutnya tidak terhenti hanya sebatas tahap awal. Karena Satgas akan menyempurnakan dengan tanggul lanjutan penahan tsunami di pesisir pantai yang terdampak tsunami.

“Ada tanggul lanjutan apabila desainnya telah disetujui,” terang Ari sambil memberikan peta pembangunan tanggul di hadapan gubernur.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here