12.000 Kilometer Mengayuh Demi Makhluk Hidup

0
68
12.000 Kilometer Mengayuh Demi Makhluk Hidup
12.000 Kilometer Mengayuh Demi Makhluk Hidup

LEBIH CEPAT – Dua sejoli asal Indonesia dan Belanda, Diego Yanuar (32) dan Marlies Fennema (25) gres saja usai mengayuh sepeda sejauh 12.000 kilometer (km), melintasi 22 negara dengan total perjalanan 332 hari.

Perjalanan yang teramat panjang itu bukan sekadar bentuk dari panjat sosial mencari sensasi. Murni, niat mereka berdua ialah mencari arti hidup, dan memberi kasih untuk manusia, tumbuhan, dan hewan.

“Gimana jikalau kita naik sepeda dari Belanda ke Jakarta?.”

Pertanyaan sederhana yang terdengar gila keluar dari tutur Diego beberapa tahun lalu. Dan rasa ingin tau terjawab, hingga tekad untuk mewujudkannya terus membesar dari hari ke hari.

Banyak yang bertanya kepada mereka, kenapa harus memakai sepeda? Diwakili Diego, ia menjawab bahwa kecepatan sepeda paling pas. Tidak terlalu cepat mirip motor atau mobil, tetapi juga tidak terlalu lambat mirip berjalan kaki.

“Kami berdua suka sepeda. Sepeda mempunyai filosofi perjuangan mengayuh di setiap meternya. Kami ingin mengawali perjalanan ini dengan kesadaran berusaha untuk mencapai garis finish,” jelas Diego .

Diceritakan sempurna pada Minggu, 2 April 2018, Diego dan Marlies memulai petualangan yang mereka beri nama Everything in Between. Mulai mengayuh dari Nijmegen, kota asal Marlies di Belanda. Sedangkan titik selesainya yaitu di Jakarta, rumah Diego.

Sekali lagi, bukan naik pesawat atau kapal. Melainkan lewat jalur darat, memakai sepeda dengan kebutuhan materi dan pangan yang lengkap. Total bawaan mereka kurang lebih 50 kilogram. Isinya persediaan makanan, baju, tenda, hingga alat-alat elektronik.

“Sebelum saya bersepeda, saya pikir kebebasan itu menyenangkan. Kebebasan hanya terasa dikala kami tidur, bersepeda, dan makan. Karena kehidupan dikala sebelumnya sangat sibuk. Saya seorang pebisnis, guru, dan penulis,” turut Marlies.

BACA JUGA:  Radin Inten II Disiapkan Sebagai Bandara Internasional

Selama perjalanan, peta jalur khusus pesepeda sudah mereka pelajari lebih dulu. Kompas manual pun selalu membimbing mereka mencari arah. Jalur melintasi benua Eropa yang indah dengan bunga bermekaran di demam isu semi ialah awal yang menyenangkan.

Namun, tantangan di depan mata, kala demam isu panas turut menemani perjalanan mereka di tempat Asia Tengah, dengan medan yang juga ekstrem.

Salah satu tempat yang menempel dalam kisah perjalanan mereka ialah dikala harus menaklukkan pegunungan di Tajikistan yang tingginya mencapai 4.256 meter.

Marlies bercerita pengalamannya, ketika ada di ketinggian itu, level oksigen ikut berkurang menciptakan mereka sulit bernapas. Tidak berhenti hingga masalah itu, tiba-tiba ada tornado datang, yang juga menurunkan salju.

“Saya ingat saya berteriak dari atas sepeda. Saya menangis dengan keras sekali, kenapa saya ada di sini, saya tidak mau meninggal di sini,” dongeng Marlies yang juga sempat dirawat selama seminggu di negara ini.

Lelah hati, badan, dan pikiran berkecamuk dalam langsung masing-masing dikala melewati titik terendah mereka. Namun, banyak sekali santunan yang tiba secara tiba-tiba dari warga sekitar, keluarga di rumah, dan juga para penggemar gres mereka di akun Instagram @everythinginbetween.journal menjadi daya penyemangat terbesar mereka.

“Bukan perihal seberapa jarak yang ditempuh, berapa usang kami mengayuh, atau berapa besar lengan berkuasa bertahan dalam perjalanan. Namun, yang kami banggakan justru hal-hal kecil yang acap kali dilupakan orang. Semisal bertemu dengan orang baru, mempelajari hal baru, dan menerima pengalaman yang baru,” ungkap Diego.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here