Membangun Benteng Pantai, Agar Rakyat Ternate Tak Panik Lagi

0
9
Membangun Benteng Pantai, Agar Rakyat Ternate Tak Panik Lagi
Membangun Benteng Pantai, Agar Rakyat Ternate Tak Panik Lagi

LEBIH CEPAT – Bermukim di tepi pantai laksana menikmati nirwana kecil. Diramaikan nyinyian debur ombak menghempas pantai ditingkahi dedaunan yang menari-nari digelitik angin laut. Suasana itu berubah mencekam ketika gelombang bahari menggulung-gulung tinggi hingga 2-3 meter dan dengan ganasnya meranggas masuk ke pemukiman hingga tumpah ke jalan-jalan raya.

Dua suasana itu jamak dialami 200 kepala keluarga yang bermukim di pesisir pantai kelurahan Rua, Kecamatan Pulau Ternate, Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara. “Setiap tahun, terutama di simpulan tahun, masyarakat harus mengungsi ke daerah lebih tinggi,” kata Ketua RT 04/02 kelurahan Rua, Iksan Aksat (39).

Dampaknya bukan hanya soal pengungsian simpulan tahun saja, juga merusak mata pencaharian penduduk yang umumnya nelayan. “Gelombang itu merusak perahu-perahu nelayan. Alhasil mereka tidak mampu mencari rezeki di laut,” ujar Iksan Aksat.

Kondisi yang terus berulang itu sangat menyulitkan masyarakat, dan berdampak pada kondisi ekonomi mereka yang selalu terhempas gelombang laut.

Pemerintah tentu tak tinggal diam. “Kami menerima laporan bahwa warga res dengan gelombang tinggi air bahari yang masuk ke pemukiman. Kita carikan solusinya,” kata Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Sungai Pantai II Balai Wilayah Sungai (BWS) Maluku Utara, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, Safrudin Usman.

Rusaknya Garis Pantai

Upaya paling fundamental yang dilaksanakan, berdasarkan Syafrudin Usman, yaitu garis pantai perlu dibangun breakwater (pengaman garis pantai). “Breakwater nantinya memiliki kegunaan untuk melindungi pantai yang terletak di belakangnya dari serangan gelombang yang mampu menimbulkan erosi pada pantai,” kata Safrudin Usman dikala meninjau garis pantai di Kelurahan Rua, Maluku Utara, Minggu (3 Februari).

BACA JUGA:  Keluarga Korban Lion Air PK-LQP Gugat Boeing

Ia menambahkan, bahwa pengamanan itu dibentuk dengan material dengan tumpukan kerikil dengan panjang 100 meter.

Safrudin Usman menyampaikan di wilayah Maluku Utara terdapat 2.500 kilometer garis pantai dan semua mengalami kerusakan. Maka dari itu, diharapkan pengaman garis pantai supaya masyakarat kondusif dari gelombang air laut. “Kami akan melanjutkan untuk pembuatan breakwater pada pesisir pantai di Maluku Utara,” tutur Safrudin Usman.

Pada 2019, lanjut Safrudin bahwa sudah ada pengerjaan breakwater di wilayah lainnya, tepatnya di RT 2 dan 4 kelurahan Rua, Maluku Utara. “Pengerjaan untuk wilayah itu sudah dilakukan pada Januari 2019. Nantinya, akan dibuatkan breakwater sepanjang 200 meter dengan sasaran selesai pada bulan Agustus,” kata Safrudin.

Mengenai hal itu, Safrudin menyampaikan terdapat 1200 meter garis pantai yang menjadi sasaran PPK BWS Maluku Utara. 200 meter garis pantai sedang dikerjakan dan sisa 600 akan dibuatkan di wilayah Halmahera.

“Di wilayah Sofifi, Halmahera, Maluku Utara garis pantainya sudah rusak tidak mengecewakan parah. Mungkin secepatnya akan diberikan solusi supaya tidak menganggu kenyamanan warga di sana,” imbuh Safrudin.

Tentu warga bahagia menyambut upaya pemerintah ini. “Sangat bermanfaat bagi kami,” kata Warga Kelurahan Rua, Isbat Thalib (32). “Kami tak perlu panik lagi. Semenjak ada itu, kami merasa terlindungi. Manfaat lainnya, warga mampu memanfaatkan pantai untuk menciptakan lapangan sepak bola,” tutur Isbat.

Ia juga berharap pemerintah mampu memperluas lagi wilayah garis pantai yang terkena gelombang tinggi dan abrasi. Selain itu, garis pantai mampu dibuatkan hutan bakau. “Dengan adanya hutan bakau mampu juga dimanfaatkan warga untuk daerah wisata,” ujar Isbat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here