Nelayan Masa Kini Buka Aplikasi Sebelum Melaut

0
201
Sejumlah Nelayan Menimbang Ikan Hasil Tangkapan Di Pelabuhan Muara Angke, Jakarta, Kamis (14/2/2019).
Sejumlah Nelayan Menimbang Ikan Hasil Tangkapan Di Pelabuhan Muara Angke, Jakarta, Kamis (14/2/2019).

LEBIH CEPAT – Yanto Ardiansyah, nelayan asal Ranai, Kepulauan Riau, sudah lebih dari 20 tahun melaut di perairan Natuna. Bersama kawan-kawannya, salah satunya Erlan, Yanto biasa berlayar pukul 15.00 dan gres kembali ke darat pukul 06.00 keesokan harinya.

Mereka kerap berpindah tempat ketika melaut. Jika di Ranai sepi ikan, Yanto dan nelayan lainnya pindah ke Selat Lampa, yang mampu memakan waktu sekitar tiga jam dengan kapal mereka. Tangkapan para nelayan itu berganti-ganti, sesuai musim.

Beberapa waktu belakangan mereka mengaku menerima lebih banyak gurita sehabis kapal gila yang menangkap ikan di Indonesia secara ilegal, diledakkan.

“Sejak kapal Thailand ditenggelamkan Bu Susi (Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti), gurita jadi lebih banyak,” kata Yanto, ketika ditemui di Sentra Kelautan dan Perikanan Terpadu (SKPT) Selat Lampa, Rabu (20/3/2019).

Salah satu kebiasaan nelayan Natuna sebelum pergi melaut yakni melihat ke arah Gunung Ranai. Kalau hari itu cerah, banyak awan di sekitar gunung, menunjukan mereka mampu ke laut.

Jika tidak ada awan, artinya angin kencang, mereka menetapkan tidak melaut. Kebiasaan itu masih dilakukan sampai beberapa bulan belakangan.

Kini, para nelayan punya alat gres untuk memprediksi kapan mampu melaut. “Kami kini pakai hape (ponsel), jadi, dikasih tahu ada aplikasi,” kata Erlan.

Sejak tiga bulan terakhir, Erlan dan rekan-rekannya sesama nelayan memanfaatkan beberapa aplikasi untuk menaksir kekuatan angin, arah, dan berapa kecepatannya.

“Dikasih tahu kawan-kawan,” kata Yanto, yang juga membuatkan kebiasaan sama memanfaatkan teknologi untuk menangkap ikan.

Erlan dan Yanto mencontohkan bagaimana cara memakai aplikasi di ponsel sebelum melaut. Mereka mengecek kecepatan dan arah angin melalui aplikasi Windy.

Jika dirasa aman, Erlan, Yanto, dan teman-temannya akan pergi berlayar mirip biasa. Sebelum pulang ke darat, mereka melihat aplikasi Fishing Point untuk memanfaatkan layanan navigasi dan arah angin.

“Kami terbantu, lebih mudah. Kalau angin kencang, tidak usah melaut,” kata Erlan.

Alat bantu untuk para pelaut itu pun bertambah. Sekira seminggu belakangan, mereka diajari memakai aplikasi untuk nelayan berjulukan Laut Nusantara.

Aplikasi berbasis Android tersebut dikembangkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan bersama XL Axiata, yang mempunyai sejumlah fitur untuk membantu produktivitas nelayan.

Salah satu fitur yang paling ingin mereka coba yakni peta sebaran ikan, di mana nelayan mampu melihat titik lokasi yang berpotensi mempunyai banyak hasil tangkapan.

“Jadi, kami mampu tahu mampu mampu ikan di mana,” kata Yanto.

Aplikasi Laut Nusantara juga mempunyai data perihal cuaca, mirip kecepatan angin, arah angin, dan tinggi gelombang sehingga Yanto dan Erlan mampu memastikan apakah kondisi sudah kondusif untuk melaut.

BACA JUGA:  Cyber Indonesia: Setop Caci Maki di Medsos

Nelayan pun mampu melaporkan hasil tangkapan mereka, termasuk jenis ikan dan bobot tangkapan melalui aplikasi tersebut.

Meski sudah terbantu aplikasi, menurut pengalamannya, Yanto tidak pernah ke maritim melebihi jarak 10 mil sebab ia akan kesulitan menerima sinyal seluler.

“Saya melaut 6-7 mil biasanya. Kalau sudah 8-10 mil, sinyal tidak ada,” kata dia.

Palapa Ring Barat
Kabupaten Natuna, tempat Yanto, Erlan, dan para nelayan tinggal itu merupakan salah satu titik fokus pembangunan infrastruktur jaringan telekomunikasi melalui proyek Palapa Ring Barat, yang sudah selesai semenjak 2018 lalu.

Pembangunan infrastruktur jaringan Palapa Ring memang difokuskan pada tempat terdepan, terluar, dan tertinggal.

Tidak hanya untuk Indonesia bab barat, pemerintah juga membangun Palapa Ring Tengah, yang selesai final tahun lalu, dan Palapa Ring Timur yang diprediksi akan selesai pertengahan tahun ini.

“Semuanya harus merata,” kata Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara melalui sambungan panggilan video ketika program Palapa Techno Fest yang berlangsung di Pantai Kencana, Ranai, Rabu (20/3/2019).

Pembangunan infrastruktur tulang punggung jaringan Palapa Ring diperlukan menciptakan tempat mempunyai saluran yang sama terhadap telekomunikasi, begitu juga dengan tarifnya.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Kementerian Kelautan dan Perikanan, Nilanto Perbowo juga menaruh impian pada Palapa Ring.

Dia berharap semua nelayan di Indonesia mampu memanfaatkan jaringan komunikasi biar mampu mengecek tinggi gelombang, angin sampai animo ikan sebelum pergi melaut.

“Dari segi keselamatan, nelayan mampu mencegah kecelakaan sebab mampu informasi cuaca. Nelayan juga mampu membaca pergerakan ikan,” kata Nilanto di program sama, Palapa Techno Fest yang digelar di SKPT Selat Lampa.

Teknologi informasi juga memungkinkan para nelayan untuk mengetahui perkembangan harga ikan.

Bupati Natuna, Hamid Rizal, ketika program diskusi Palapa Techno Fest di SKPT Selat Lampa, mengemukakan jaringan infrastruktur tersebut bukan hanya bermanfaat untuk masyarakat nelayan, namun juga sistem pertahanan dan keamanan sebab Natuna termasuk wilayah terluar Indonesia.

Dengan jaringan telekomunikasi yang membaik, komunikasi akan menjadi lebih cepat, kata Rizal.

Sekarang, lewat aplikasi dan infrastruktur yang memadai itu Yanto, Erlan dan para nelayan di Natuna tidak lagi bergantung pada Gunung Ranai untuk menciptakan keputusan melaut atau tidak.

Tapi, kebiasaan mereka melihat gunung tidak lantas ditinggalkan begitu saja, tetap dilakukan meski untuk tujuan berbeda.

“Sekarang lihat Gunung Ranai untuk pemandangan saja,” kata Erlan disusul tawa kecil.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here