PSI: Kasus Penganiayaan Audrey Harus Diselesaikan Secara Adil

0
159
1554866355
1554866355

Juru bicara PSI, Kokok Dirgantoro, mengecam dugaan penganiayaan yang dilakukan oleh sejumlah oknum siswi dari beberapa Sekolah Menengan Atas di Kota Pontianak kepada seorang siswi Sekolah Menengah Pertama di Kota Pontianak, Audrey (14). Kejadian ini terjadi pada 29 Maret 2019.

“PSI mengecam insiden penganiayaan ini. Kami berpihak pada korban. PSI mendorong semoga proses aturan berjalan semoga keadilan ditegakkan untuk Audrey,” kata Kokok kepada Beritasatu.com, Rabu (10/4).

Kokok juga menyatakan kesiapan PSI untuk mendampingi korban. “Kami siap bekerja sama dengan organisasi manapun untuk melaksanakan pendampingan terhadap korban,” katanya

Menurut Kokok, publik, sekolah dan pemerintah dihentikan melaksanakan pembiaran terhadap agresi perundungan yang mengarah kepada menyakiti fisik dan psikis korban.

“Jangan hingga masalah perundungan hingga jatuh korban mirip ini berakhir tenang dengan alasan pertimbangan masa depan pelaku. Lalu bagamana dengan masa depan korban? Bagaimana pemulihan fisik dan psikisnya?” tegas Kokok.

PSI meneguhkan kesepakatan untuk mengawal masalah ini sebagai bukti aktual PSI akan menghapus perundungan di sekolah, kampus, tempat kerja, dan sebagainya.

“Jangkar Solidaritas dan pengurus partai di sentra hingga tempat tak akan tinggal diam. Kami akan terus menjadi kekuatan penekan hingga agresi perundungan musnah terutama terhadap anak-anak,” ujar Kokok.

Sebagaimana diberitakan, Audrey, seorang pelajar Sekolah Menengah Pertama di Pontianak, Kalimantan Barat, menjadi korban penganiayaan dari 12 orang sahabat kakaknya. Kasus penganiayaanya pun viral di media umum dan memicu tagar #JusticeforAudrey yang disuarakan warganet juga para selebriti lokal maupun internasional.

Para pelaku penganiayaan Audrey ini mampu dimintai pertanggungjawaban hukum, meski contohnya mereka masih di bawah umur.

Hal ini ditegaskan hebat aturan pidana dari Universitas Islam Indonesia, Mudzakir. “Jika pelaku berusia di atas 14 tahun, maka mampu diminta tanggung jawab di depan hukum. Bisa mengajukan ke pengadilan anak dan dipidana penjara dalam waktu tertentu meski dikurangi satu per tiga hukuman,” kata Mudzakir.

BACA JUGA:  Dunia Maya Menggerus Nilai Nasionalisme

Mudzakir menyatakan para pelaku mampu dijerat Pasal 351 ayat (2) kitab undang-undang hukum pidana yang berbunyi “jika perbuatan menimbulkan luka-luka berat, yang bersalah diancam dengan pidana penjara paling usang lima tahun.”

PSI juga meminta semoga media massa berhati-hati menulis isu sebab korban maupun pelaku masih di bawah umur.

“Sekarang yang terpenting yaitu saluran kesehatan dan pemulihan psikis korban dan proses aturan yang seadil-adilnya bagi pelaku,” ungkap Kokok.

Trauma psikologis sangat berbahaya, apalagi korbannya seorang anak. Bisa berpengarung pada tumbuh kembangnya. Pemulihan terhadap Audrey tidak hanya fisik tetapi harus juga diperhatikan psikisnya,” imbuhnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here