Hindari Penyakit Kardiovaskular, Adopsi Gaya Hidup Sehat dan Deteksi Dini

0
158

Penyakit kardiovaskular juga merupakan tantangan utama dalam pelaksanaan Universal Health Coverage alasannya prevalensi yang semakin lazim dalam populasi. Pada kondisi kronis, biaya pengobatan yang harus dikeluarkan pasien cukup mahal. Di Indonesia, prevalensi penyakit ini semakin meningkat bahkan pada usia muda.

Terkait penyakit tidak menular mirip penyakit jantung, Kepala Subdirektorat Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah, Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan RI dr. Asik Suryo mengatakan, dikala ini, ada peningkatan pada hampir semua faktor risiko penyakit jantung, mirip hipertensi, gula darah/diabetes, dan rokok, khususnya pada generasi muda.

“Kebiasaan-kebiasaan jelek mirip malas bergerak (mager) dan makan berlebih juga menjadi penyebab meningkatnya prevalensi penyakit ini di Indonesia dan membengkaknya pembiayaan BPJS,” kata Asik dikala Forum Diskusi mengenai penyakit jantung yang bertema “Lindungi Jantung Anda – Pentingnya Deteksi Dini” di Jakarta, Kamis (11/4).

Asik juga menyatakan bahwa pemerintah sudah mengutamakan gerakan pencegahan penyakit dan promosi kesehatan. Salah satunya melalui acara POSBINDU (Pos Pembinaan Terpadu untuk Penyakit Tidak Menular), GERMAS (Gerakan Masyarakat Hidup Sehat), dan CERDIK (Cek kesehatan secara berkala, Enyahkan asap rokok, Rajin Olahraga, Diet sehat dengan kalori seimbang, Istirahat yang cukup, dan Kelola stress).

Menurut Asik, POSBINDU merupakan salah satu upaya pemerintah berbasis masyarakat yang dilaksanakan sebagai tindakan dalam menanggulangi Penyakit Tidak Menular (PTM). Sementara GERMAS dan CERDIK merupakan perjuangan menggalakkan hidup sehat sebagai tindakan preventif atas PTM.

Wakil Sekretaris Jenderal Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) dr. Ario Soeryo Kuncoro, SpJP (K) menjelaskan mengenai faktor penyakit jantung. Secara garis besar, faktor risiko penyakit jantung mampu dikategorikan dalam dua jenis, yaitu faktor risiko tradisional dan faktor non-tradisional. Faktor risiko tradisional ialah faktor risiko yang sudah diketahui banyak orang, mirip merokok, makanan, dan gaya hidup. Faktor risiko non-tradisional mirip adanya zat aneh yang ada di badan dan menjadi pemicu penyakit jantung.

BACA JUGA:  Tips Mengatasi Ketakutan Anak Terhadap Dokter Gigi

“Di Indonesia, masyarakat sudah mulai paham mengenai penyakit jantung dan risikonya, tetapi yang kurang ialah kesadaran untuk mengaplikasikan upaya untuk gaya hidup sehat semoga terhindar dari penyakit kardiovaskular. Jika tidak, meningkatnya penyakit ini menjadi kondisi yang lebih kronis mampu berdampak pada pembiayaan perawatan,” paparnya.

Deteksi Dini

Lebih jauh, Presiden Direktur Philips Indonesia Dick Bunschoten mendukung sosialisasi pencegahan dan deteksi dini penyakit tidak menular, terutama penyakit jantung dan pembuluh darah. Philips ingin mengedukasi pentingnya pencegahan dan deteksi dini untuk mengurangi beban penyakit kardiovaskular, baik bagi pasien, tenaga kesehatan, maupun negara.

Selain dari upaya untuk terus mendorong orang mengadopsi gaya hidup sehat, Philips menyediakan teknologi kesehatan canggih yang akan membantu akomodasi kesehatan menunjukkan perawatan terbaik bagi pasien dan pada dikala bersamaan, menciptakan perawatan tersebut lebih ekonomis biaya.

“Meskipun melalui BPJS pemerintah menanggung biaya pengobatan, pada alhasil akan diperlukan pendekatan kolaboratif oleh semua pemangku kepentingan, yaitu pemerintah, tenaga kesehatan profesional, asosiasi terkait serta masyarakat umum, untuk mengurangi beban biaya perawatan penyakit kardiovaskular,” ujarnya/

Untuk deteksi dini, Philips mempunyai beberapa solusi, mirip pemindai EKG (elektrokardiogram), USG (ultrasonografi) dan CT Scan (Computerized tomography scan), yang membantu mendeteksi tanda-tanda penyakit jantung. Perangkat ini membantu menunjukkan data kesehatan pasien dengan cepat, jago dan biaya murah kepada dokter atau teknisi, yang membantu mengidentifikasi tanda-tanda penyakit kardiovaskular.

Solusi HeartStart AED Philips mempunyai panduan langkah demi langkah yang memungkinkan praktisi kesehatan mengambil tindakan tanpa ragu menyelamatkan korban serangan jantung mendadak.

Selain itu, Philips juga mempunyai Azurion Cathlab, yang dirancang untuk mendiagnosis dan merawat pasien di rumah sakit dan klinik seorang ahli di banyak sekali bidang terapi termasuk kardiologi, untuk mekanisme mulai dari USG sederhana sampai perfusi pembuluh darah yang kompleks. Azurion telah memenuhi standar internasional untuk perawatan optimal, kesejahteraan dan keselamatan bagi pasien dan dokter.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here