Regulasi Diperlukan untuk Cegah Kekerasan terhadap Suporter Olahraga

0
148
Ratusan Suporter PSIM Yogyakarta Masuk Ke Lapangan Saat Laga Liga Indonesia Di Stadion Sultan Agung, Bantul, DI Yogyakarta, Selasa (11/12/2018).
Ratusan Suporter PSIM Yogyakarta Masuk Ke Lapangan Saat Laga Liga Indonesia Di Stadion Sultan Agung, Bantul, DI Yogyakarta, Selasa (11/12/2018).

Kekerasan suporter yakni duduk perkara laten dalam dunia olahraga Indonesia. Kasus terakhir, yakni maut Haringga Sirila yang merupakan anggota The Jakmania yang tewas dikeroyok di Stadion Gelora Bandung Lautan Api ketika Persija menghadapi Persib Bandung. Oleh alasannya itu, diharapkan regulasi untuk mencegah dan menanggulangi kekerasan suporter.

Regulasi ini mampu dibentuk oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kempora) ataupun induk organisasi olahraga mirip PSSI.

Asisten Deputi Pengelolaan Olahraga Pendidikan Kempora Alman Hudri menuturkan, regulasi ini tengah digodok oleh Kempora, khususnya di pecahan Hukum dan Humas.

“Nanti diatur wacana eksekusi dan juga hukuman untuk suporter yang melaksanakan kekerasan termasuk juga untuk panitia penyelenggaranya. Kami terus berproses dan tentunya dengan melibatkan induk organisasi dan juga para suporter itu sendiri,” tutur Alman kepada Beritasatu.com, Senin (15/4/2019) di Auditorium Juwono Sudarsono, FISIP Universitas Indonesia, Kota Depok, Jawa Barat dalam Seminar Liga FISIP UI 2019.

Pembuatan regulasi tersebut masih memakan waktu cukup usang dan belum akan rampung dalam waktu dekat.

“2019 belum ya. Masih kami godok dan matangkan semuanya. Tentu kami libatkan PSSI juga dan organisasi suporter,” papar Alman.

Organisasi Save Our Soccer mencatat, terdapat 77 orang meninggal semenjak 1995 sampai 2018 alasannya kekerasan terhadap suporter.

Koordinator Save Our Soccer Akmal Marhali mengungkapkan, salah satu penyebab kekerasan terhadap suporter yakni fanatisme yang berlebihan sehingga menimbulkan nyawa jadi taruhannya.

“Anarkisme ini harus mampu diurai. Saya rasa tak ada cita-cita untuk menuntaskan hal ini. Di sinilah pentingnya untuk membuat regulasi yang mampu dinikmati bersama dan membuat semua pihak merasa terlindungi,” tutur Akmal Marhali.

Akmal Marhali mengungkapkan, menangani suporter berbeda dengan mengatasi para pendemo. Harusnya pemerintah dan juga induk organisasi mengajak segenap elemen terkait untuk duduk bersama merumuskan regulasi yang tepat.

BACA JUGA:  PDI-P Tawarkan Bantuan Sisir Anggaran, Anies Tak Merespons

“Tidak semua organisasi dan kelakuan suporter itu buruk. Beberapa organisasi suporter sudah baik dan ini harus dipertahankan. Kalau yang belum baik ya dicari cara semoga jalannya juga menjadi baik ke depannya,” papar Akmal.

Head of Security and Safety PSSI Nugroho Setiawan memaparkan, segenap permasalahan dalam internal PSSI membuat beliau menyetujui jikalau PSSI harus dibekukan.

“Tidak apa-apa. Asal ketika dibekukan FIFA, kita semua berbenah. Jangan membisu saja. Dengan demikian ketika waktu pembekuan sudah habis, kita sudah mempunyai PSSI yang lebih baik,” papar Nugroho.

Ketua Umum The Jakmania Ferry Indrasjarief mengungkapkan, perlakuan terhadap suporter juga harus baik dan tidak berat sebelah. Di Indonesia, ketika suporter masuk stadion saja sudah dicurigai macam-macam. Segala barang bawaan pun harus ditinggal di luar stadion.

“Bahkan botol susu anak pun harus ditinggalkan. Minyak anyir wanita juga harus ditinggalkan. Lha, kita ini kan mau nonton sepakbola. Bukan mau aneh-aneh. Mau rileks, dukung tim kesayangan, tetapi perlakuannya mirip ini,” tutur Ferry.

FISIP UI merasa tema kekerasan terhadap suporter ini penting untuk diangkat dalam seminar Liga FISIP UI.

Liga FISIP UI akan mempertandingkan turnamen olahraga futsal, basket, dan sepakbola antarfakultas sosial dan humaniora sederajat se-Indonesia.

Wakil Ketua BEM FISIP UI, Wilsa Naomi mengatakan, FISIP UI memandang penting dan adanya urgensi untuk segera menghentikan kekerasan dalam bentuk apa pun di dunia olahraga.

“Kami berharap ada harmoni yang tercipta antarsuporter di Indonesia melalui regulasi yang sempurna dan tersosialisasikan dengan baik,” tutur Naomi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here