Rapid Test Produksi Kimia Farma Deteksi DBD Lebih Dini

0
150
Rapid Test Produksi Kimia Farma Deteksi DBD Lebih Dini
Rapid Test Produksi Kimia Farma Deteksi DBD Lebih Dini

Menteri Kesehatan Nila Moeloek mengunjungi pabrik rapid test milik Kimia Farma di Denpasar, Bali, Selasa (23/4/2019). Menkes tiba bersama rombongan Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat bersama 40-an wartawan dari Jakarta dalam rangka kunjungan lapangan tematik media massa di Denpasar, Bali, selama 23-26 April.

Sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) farmasi, PT Kimia Farma (Persero) Tbk atau Kimia Farma menjalankan bidang perjuangan healthcare (kesehatan) dari hulu sampai ke hilir.

Lini bisnis yang dimiliki mulai dari manufaktur, riset dan pengembangan, pemasaran, distribusi dan perdagangan sampai ritel. Salah satu akomodasi produksi yang mendukung acara manufaktur Kimia Farma ialah pabrik rapid test yang berlokasi di Jalan Cargo Taman II No. 9, Denpasar, Bali.

Pabrik ini mampu memproduksi alat diagnostik rapid test skala industri di Indonesia. Rapid test dipakai untuk investigasi atau skrining medis awal dengan memakai peralatan yang sederhana serta memperlihatkan hasil dalam waktu yang cepat.

Menkes mengatakan, ini ialah salah satu kemajuan dalam bidang teknologi kesehatan di dalam negeri. Diharapkan dengan diproduksi di dalam negeri, kebutuhan masyarakat mampu terpenuhi dengan harga yang lebih efisien.

“Saya besar hati lantaran ini ialah karya anak bangsa sendiri, ilmu yang yang tiba dari anak bangsa sendiri. Tentu sudah dengan metode penelitian yang sahih gres menghasilkan produk ini,” kata Menkes kepada wartawan usai melihat dari bersahabat proses produksi rapid test tersebut.

Menurut Menkes, rapid test memungkinkan diagnosa untuk beberapa penyakit, mirip malaria, hepatitis B, sifilis, dan demam berdarah dengue (DBD) secara lebih dini. Dulu, kata Menkes, tanda-tanda penyakit DBD spesifik, sehingga gampang untuk dilakukan diagnosa. Namun kini DBD tidak lagi memperlihatkan tanda-tanda spesifik, sehingga sering diabaikan. Pada sebagian masalah tidak tertolong lantaran terlambat terdiagnosa. Penderita gres ke rumah sakit ketika trombositnya turun, namun terlambat lantaran darah sudah merembes ke organ lain mirip kanker.

BACA JUGA:  Taufik Kurniawan Mangkir dari Pemeriksaan KPK

“Seringkali lantaran panasnya sudah turun kita anggap demam sudah hilang. Tetapi ternyata trombositnya turun gres ke rumah sakit. Namun sudah terlambat lantaran darahnya sudah merembes ke mana-mana, ke otak, ke paru-paru, dan inilah yang sebabkan ajal menjadi tinggi,” kata Menkes.

Dengan adanya rapid test ini, lanjut Menkes, dokter akan lebih cepat melaksanakan investigasi dan intervensi lebih lanjut.

Di kesempatan yang sama, Direktur Pengembangan Bisnis Kimia Farma, Pujianto, mengatakan, akomodasi produksi rapid test ini merupakan wujud akad kemandirian Kimia Farma yang diperlukan mampu berbagi produk lokal Indonesia serta sebagai upaya Perseroan menjadi perusahaan healthcare yang memperlihatkan jalan masuk produk dan layanan kesehatan bagi seluruh lapisan masyarakat.

Produk rapid test yang telah berhasil diproduksi Kimia Farma dan menerima izin edar, yaitu tes kehamilan, tes Hepatitis B, Sifilis, malaria, dan DBD. Sementara itu, test kit yang ketika ini masih dalam pengembangan, ialah HIV 1 dan 2, tes narkoba, daln lain-lain.

Saat ini, Kimia Farma juga sedang melaksanakan pengembangan materi baku test kit untuk antibodi monoklonal lokal bekerja sama dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) untuk Dengue NS1 dan Universitas Andalas untuk antibodi monoklonal lainnya beserta reagensia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here