Hendropriyono: WNI Keturunan Arab Jangan Kaprikornus Provokator

0
128
Hendropriyono: WNI Keturunan Arab Jangan Kaprikornus Provokator
Hendropriyono: WNI Keturunan Arab Jangan Kaprikornus Provokator

Mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), AM Hendropriyono memperingatkan Warga Negara Indonesia (WNI) keturunan Arab yang menjadi elite politik tidak menjadi provokator. Terutama selama penyelenggaran pemilu 2019. Sebagai elite yang diterima masyarakat Indonesia, kata Hendropriyono, seharusnya mereka menawarkan acuan yang baik.

“Saya ingin memperingatkan bangsa Indonesia, WNI keturunan Arab semoga sebagai elite yang dihormati oleh masyarakat kita, cobalah mengendalikan diri jangan menjadi provokator,” ujar Hendropriyono di kantor Lemhanas, Jakarta Pusat, Senin (6/5/2019).

Menurut Hendropriyono, banyak WNI Arab yang dihormati oleh rakyat Indonesia. Karena itu, pernyataan mereka tentu mampu kuat untuk orang lain atau masyarakat Indonesia.

“Saya ingatkan, alasannya di dusun, di desa, masyarakat kita kalau ada orang Arab pidato, bicara semua cium tangan. Kalau China tidak ada yang cium tangan di kampung-kampung. Artinya masyarakat keturunan Arab WNI tahu posisinya yang dimuliakan rakyat, dengan dimuliakannya tahulah dalam posisi yang diperlukan mengayomi. Jangan memprovokasi untuk melaksanakan politik jalanan, apa pun namanya lah. Tetapi itu di jalan, tidak disiplin,” terperinci dia.

Hendropriyono memang enggan menuduhkan kepada perseorangan, tetapi ia memperingatkan bagi semua WNI keturunan Arab yang dihormati oleh banyak rakyat. Dia juga membantah jikalau pernyataannya tersebut bernuansa SARA.

“Saya tidak mempunyai kepentingan apapun, apalagi memojokan kelompok tertentu. Bukan cuma Habib Rizieq Syihab, tapi elite lainnya. Agar mampu menahan diri dan tidak memprovokasi,” tandas dia.

Mantan Ketua Umum PKPI itu memandang, masyarakat sipil mempunyai tugas vital di dalam negara demokrasi. Bahkan perebutan kekuasaan mampu berawal dari rakyat sipil. Maka untuk menghindarinya, rakyat harus diberi edukasi yang baik bukan diprovokasi.

“Kita lihat dulu Jenderal Soedirman di gotong-gotong sebagai orang sakit ke sana kemari, tidak ada arti dalam seni manajemen militer, tetapi secara psikologis artinya sangat besar, memenangkan perang,” pungkas Hendropriyono.

BACA JUGA:  Lama Tidak Muncul, Presiden Vietnam Dilaporkan Hilang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here