Kekerasan Meluas, Sri Lanka Berlakukan Jam Malam

0
80
Kekerasan Meluas, Sri Lanka Berlakukan Jam Malam
Kekerasan Meluas, Sri Lanka Berlakukan Jam Malam

Pemerintah Sri Lanka, Senin (13/5/2019), memberlakukan jam malam untuk mengantisipasi berlanjutnya kekerasan dan penjarahan yang menargetkan daerah ibadah dan toko-toko milik warga Muslim.

Jam malam tersebut diberlakukan mulai Senin (13/5/2019), pada pukul 21.00 sampai pukul 04.00 waktu setempat, sehabis satu orang tewas akhir agresi kekerasan dan penjarahan, yang menciptakan polisi menembakkan gas air mata untuk membubarkan massa.

Warga Muslim di wilayah Provinsi Utara Barat menyatakan kerumunan massa telah menyerang daerah ibadah serta merusak toko-toko dan bisnis milik warga Muslim untuk hari kedua.

“Ada ratusan perusuh, polisi dan tentara hanya menonton. Mereka telah memperabukan dan menghancurkan banyak toko milik warga Muslim. Ketika kami berusaha keluar rumah, polisi meminta kami tetap di dalam,” kata penduduk di wilayah Kottamppitiya, Sri Lanka, yang menolak disebutkan namanya.

Di kota utara-barat, Kiniyama, jendela-jendela dan pintu-pintu menuju daerah ibadah Muslim dihancurkan. Serangan itu dipicu oleh sekelompok orang yang menuntut penggeledahan gedung tersebut, sehabis tentara menilik danau di dekatnya untuk mencari senjata.

Serangan teror bom Paskah pada 21 April 2019, yang diklaim oleh Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS), telah memicu kekhawatiran munculnya serangan jawaban kepada minoritas Muslim di negara itu.

Seorang petugas di rumah sakit (RS) Marawila menyatakan laki-laki berusia 42 tahun yang dibawa ke RS itu dengan luka tikaman, telah meninggal. Penduduk di wilayah daerah kekerasan terjadi membantu membawa korban ke RS dan mengidentifikasinya sebagai Mohamed Ameer Mohamed Sally.

Ketegangan di Sri Lanka memang memuncak sehabis milisi Islam menyerang gereja-gereja dan hotel-hotel pada Minggu Paskah sehingga menewaskan lebih dari 250 orang dan melukai sekitar 500 orang.

BACA JUGA:  Larangan Merokok Saat Berkendara Bukan Aturan Baru

Perdana Menteri, Ranil Wickremesinghe, menyerukan biar tenang dan menyatakan kerusuhan terbaru telah menghambat penyelidikan atas serangan teror bom bulan lalu.

Ranil Wickremesinghe memperingatkan jikalau rasisme meningkat dan perdamaian terganggu, maka negara akan menjadi tidak stabil.

“Tujuan kelompok-kelompok ini yang menimbulkan kekerasan yaitu menciptakan gangguan dalam kehidupan masyarakat dan mendestabilisasi negara,” kata Ranil Wickremesinghe.

Rail Wickremesinghe menyatakan telah menawarkan kekuasaan kepada pasukan keamanan untuk mengambil tindakan tegas terhadap para pengganggu perdamaian.

Otoritas juga sudah memblokir sementara media umum dan jaringan pesan termasuk Facebook dan WhatsApp, sehabis bentrokan di kepingan lain negara itu yang dipicu perselisihan di Facebook.

Warga Muslim Sri Lanka berjumlah hampir 10 persen dari 22 juta populasi warga Sri Lanka yang didominasi Buddha Sinhalese.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here