Musornas KONI Diwarnai Kericuhan

0
74
Musornas KONI Diwarnai Kericuhan
Musornas KONI Diwarnai Kericuhan

Musyawarah Olahraga Nasional (Musornas) Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) XIII 2019 yang juga membahas perihal pemilihan ketua umum periode 2019-2023 di Hotel Sultan, Jakarta, Selasa (2/7/2019), diwarnai peristiwa kericuhan antar anggota serta pimpinan sidang.

Kericuhan tersebut bermula saat pimpinan sidang sementara, yakni Wakil Ketua KONI Pusat I Nugroho membacakan tata tertib (tatib) sekitar pukul 09.30 WIB kepada 101 voters yang berasal dari 34 KONI Provinsi serta 66 cabang olahraga.

Tampak kericuhan terjadi antar anggota sidang. Mereka saling teriak, bahkan anggota yang tadinya duduk di belakang serempak maju untuk mendekati meja pimpinan sidang. Hal tersebut terjadi alasannya adalah mereka menilai pimpinan sidang tidak menunjukkan kesempatan kepada anggota untuk memberikan aspirasinya.

Hal tersebut dikatakan oleh beberapa anggota sidang, mirip Tony F Kullit, Sarman Simanjorang, Ganjar Razuni, dan La Nyalla Mattalitti.

Perwakilan Pengurus Besar Persatuan Renang Seluruh Indonesia (PB PRSI) Sarman Simanjorang menyampaikan kericuhan berawal dari adanya pemaksaan kehendak soal hukum tata tertib dari pimpinan sidang.

“Jadi tadi itu tidak dibahas satu per satu tatibnya. Semuanya disudahi tanpa mendengarkan aspirasi anggota. Harusnya dibahas satu-satu,” kata Sarman.

Senada dengan Sarman, perwakilan KONI Sulawesi Utara Tony F Kullit juga menganggap bahwa pimpinan sidang terlalu terburu-buru untuk mengetok palu padahal anggota sidang belum memberikan pendapatnya.

“Musyawarah itu bergotong-royong harus didengar dari setiap anggota, sehabis semua sudah diakomodir kita ambil solusinya. Itu musyawarah mufakat, bukan mempertahankan pendapat pimpinan sidang mirip ini,” kata Tony.

Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Persartuan Sepatu Roda Seluruh Indonesia (PB Perserosi) Ganjar Razuni juga menyampaikan bahwa mic yang disediakan tidak memadai sehingga para anggota sulit untuk menunjukkan pendapat. Selain itu, bahan sidang yang gres diterima oleh para anggota saat di lokasi juga dinilai melanggar aturan.

BACA JUGA:  Sistem Ganjil-Genap Diusulkan Terus Dilanjutkan

“Kami gres terima tadi di sini. Di bahan itu ada acara tapi itu hanya laporan pelaksanaan acara kerja padahal seharusnya jikalau sesuai dengan ketentuan itu laporan keuangan yang disahkan oleh akuntan publik ialah laporan keuangan secara utuh,” ujar Ganjar.

Lebih lanjut, Wakil Ketua KONI Jawa Timur La Nyalla Mattalitti menuturkan bahwa dalam musyawarah aspirasi itu muncul dari bawah, yakni anggota. Sehingga pimpinan sidang tidak mampu memaksakan kehendaknya tanpa mendengar pendapat dari orang lain.

“Seharusnya aspirasi itu dari bawah, kasihlah kesempatan voters itu untuk berbicara. Jangan terus dikunci, tahunya eksklusif pimpinan sidang ambil keputusan. Di sisi lain tatibnya lemah, ini yang harus dibongkar. Intinya memaksakan kehendak,” kata La Nyalla.

“Saya ingatkan PSSI saja dulu mampu dibekukan, apalagi KONI,” lanjutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here