Kesadaran Kelompok Milenial Terhadap Isu Lingkungan Semakin Tinggi

0
58
Kesadaran Kelompok Milenial Terhadap Isu Lingkungan Semakin Tinggi
Kesadaran Kelompok Milenial Terhadap Isu Lingkungan Semakin Tinggi

Kesadaran kelompok kaum muda, khususnya kelompok milenial terhadap isu-isu lingkungan hidup, mirip sampah, plastik, dan lingkungan secara umum sudah sangat tinggi. Bahkan banyak kelompok milenial yang aktif sebagai relawan lingkungan demi kehidupan yang lebih baik.

Demikian benang merah dari diskusi menarik yang di gelar di salah satu booth yang ada di arena Pekan Lingkungan dan Kehutanan (PLK) 2019 di JCC Jakarta, Jumat (12/7/2019). Booth yang menggelar diskusi ini ialah “Pojok Milenial”. Di arena PLK, juga digelar sejumlah diskusi yang dihadiri banyak pengunjung baik dari Jakarta maupun perwakilan LH dari banyak sekali kota dan provinsi.

Para narasumber pun tiba dari kelompok milenial yang sangat care pada isu-isu lingkungan yaitu Puteri Indonesia Lingkungan 2019 asal Sulut, Jolenee Marie, Direktur Gerakan Diet Kantong Plastik Indonesia (GIDKP) Tiza Mafira, dan pelopor lingkungan di Aceh, Zulfikar. Hadirin yang sebagaian besar kaum muda sangat antusias mendengar paparan dan testimoni mereka.

Puteri Indonesia Lingkungan 2019 Jolenee yang tampil segar dengan atribut mahkota, menceritakan bagaimana dirinya makin memahami dan akan terus menyuarakan pentingnya kaum muda dan milenial untuk peduli pada isu-isu lingkungan yang menjadi dilema kita bersama.

“Kecintaan saya pada lingkungan makin tebal sesudah terpilih jadi Puteri Indonesia Lingkungan dan kini membantu Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk kampanye dan advokasi lingkungan terutama kepada kaum muda,” kata Jolenee yang hobby naik gunung ini.

Jolenee menyinggung problem besar lingkungan hidup di negara kita yakni soal sampah plastik dan kerap disorot dunia internasional. Kita harus mampu membantu pemerintah mengurang isampah plastik dengan memberi advokasi pada masyarakat untuk mengurangi penggunaan plastik.

“Bersamaan dengan advokasi saya terhadap lingkungan, saya sudah mengurangi penggunaan plastik. Saya tidak pakai sedotan plastik dan selalu membawa stainless straw. Alat-alat masak di rumah pun kini sudah pakai kayu bukan plastik,” ujar Jolenee sambil menebar senyum.

Nara sumber ahli lainnya ialah Tiza Mafira yang bergerak secara simultan untuk diet plastik. Lewat Gerakan Diet Kantong Plastik Indonesia ini Tiza menyabet penghargaan Ocean Heroes 2018 dari Badan PBB untuk Lingkungan (UNET) dalam rangka Hari Samudera se-Dunia. Penghargaan yang pertama kalinya diberikan ini merupakan penggalan dari Kampanye Clean Seas. Tiza jadi salah satu dari lima orang yang menerima penghargaan Ocean Heroes. Selain Tiza masih ada empat orang peserta penghargaan, masing-masing berasal dari India, Inggris Raya, Thailand dan Amerika Serikat.

Ketika diskusi, Tiza menyarankan kepada hadirin untuk bukan saja diet plastik tapi harus menguranginya lantaran plastik ada di sekitar kita, di setiap acara kita, dan menjadi sampah yang amat berbahaya. “Upaya saya melaku gerakan via online dan kemudian dilanjutkan dengan pertemuan offline dengan mereka yang sangat peduli pada lingkungan dan pengurangan plastik. Kaprikornus gerakan lewat online harus disenergikan dalam pertemuan offline, lantaran online mirip media umum hanyalah flatform saja, yang riil yang kita hadapi,” papar Tiza yang pengacara ini.

BACA JUGA:  Longsor Putuskan Trans Sulawesi-Palu-Gorontalo

Gerakan Tiza yang berbuah pada keluarnya peraturan plastik berbayar dan dilarangnya penggunaan plastik sekali pakai di sejumlah kota banyak diikuti kaum milenial. “Kepedulian kita harus direfleksikan dalan kegiatan sehari-hari. Kita harus pounya tujuan besar mengurangi sampah plastik sebesar mungkin,” tambahanya.

Sedangkan Zulfikar yang melaksanakan kegiatan kampanye pengurangan smapah plastik di Aceh juga sependapat, mulai dikala ini semua kelompok masyarakat terutama kaum milenial harus peduli terhadap sampah plastik dan mengurangi dengan pola dan kampanye yang masif.

“Saya oke banget kalau kawasan melarang plastik. Kita mampu hidup tanpa plastik kok. Lingkungan akan semakin higienis jikalau plastik berkurang,” kata Zulfikar.

Sementara itu Dirjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup (PPKL) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), RM Karliansyah,mengatakan, PLK 2019 ini menyasar pada kelompok milenial sebagai distributor perubahan yang semakin sadar akan lingkungan.

“Kita melihat semenjak pembukaan hingga Jumat kemarin, banyak sekalipelajar, majasiswa, dan kaum muda yang hadir dan melihat bazar dan memperhatikan setiap booth dengan serius. Begitu juga dengan sejumlah seminar mengenai gosip lingkungan yang digelar di dalam PLK ini, banyak yang tiba dari kaum milenial.

“Saya menyimpulkan, perhatian, kesadaran, dan harapan kaum milenial untuk peduli pada lingkungan sangat tinggi. Kita harus apresiasi mereka, lantaran dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, kaum milenial menjadi influencer ataumemberi imbas besar pada masyarakt untuk ikut mengubah pola hidup yang lebih care pada lingkungan,” papar Karliansyah.

Pemerintah lanjut Karliansyah sangat mengapresiasi peningkatan kesadaran masyarakat yang begitu tinggi, sekaligus kemudian juga diikuti dengan tingginya minat masyarakat untuk memperoleh pengetahuan dan edukasi lebih jauh mengenai hal tersebut.

Atas dasar hal itulah kata Karlinasyah, ajang Pekan Lingkungan Hidup dan Kehutanan ini akan dimanfaatkan sebagai upaya pelipatgandaan sosialisasi kebijakan pemerintah terkait penanganan pencemaran yang bersifat pribadi maupun tidak langsung, mirip peta jalan pengurangan sampah nasional dan penggunaan plastik sekali pakai, transisi penggunaan materi bakar dan sumber energi yang ramah lingkungan, perubahan teknologi dan sistem administrasi menjadi lebih bersih.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here