Fahri: Syafruddin Bebas, Bukti KPK Lemah

0
29
Fahri: Syafruddin Bebas, Bukti KPK Lemah
Fahri: Syafruddin Bebas, Bukti KPK Lemah

Wakil Ketua dewan perwakilan rakyat Fahri Hamzah menilai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) harus introspeksi diri menyusul adanya putusan Mahkamah Agung yang membebaskan terdakwa masalah perlindungan likuiditas Bnak Indonesia (BLBI) Syafruddin Arsjad Temenggung.

Fahri menilai kapasitas KPK dalam melaksanakan audit dan pemeriksaan masih lemah.

“Kalau berguru dari masalah Century yang saya ikuti dari Pansus hingga timwas, saya menemukan bahwa kemampuan KPK utk melaksanakan pemeriksaan dan audit secara mendalam memang lemah,” ujar Fahri di Jakarta, Senin (15/7/2019).

Fahri menilai kekuatan KPK hanya terletak pada operasi tangkap tangan atau OTT. Sementara kemampuan KPK dalam mengidentifikasi fraud (penyelewengan) dalam masalah yang bergotong-royong terang benderang sangat lemah.

“Kemampuan (KPK) dalam mengidentifikasi fraud dalam masalah yang terang benderang, mirip masalah Century saja lemah. Apalagi dalam masalah BLBI yang dalam rapat kabinet sudah menetapkan kasusnya sudah selesai. Sebab itu, KPK harus instropeksi,” tandas dia.

Salah satu yang perlu diperbaiki KPK ke depannya, kata Fahri, yakni memperkuat dan meningkatkan kemampuan di bidang audit. Menurut dia, metode audit lebih bersahabat dengan tradisi demokrasi, sementara metode pengintipan atau penggunaan alat sadap lebih bersahabat dengan tradisi otoritarianisme.

“Jadi, tradisi demokrasi lebih sinkron dengan metode audit alasannya yakni tradisi otoritarianlah yang bergotong-royong lebih bersahabat dengan metode pengintipan. KPK dari sadap ke audit. Itu yang relevan untuk membaca kerugian keuangan negara, bukan sekedar amplop-anplop yang diterima oleh orang tetapi bergotong-royong seberapa besar penyimpangan dalam penerimaan negara, akuntansi keuangan negara,” terperinci dia.

Mahkamah Agung telah mengabulkan permohonan kasasi yang diajukan oleh Syafruddin, yang menjadi terdakwa masalah dugaan korupsi surat keterangan lunas BLBI.

Dalam amar putusannya, Majelis hakim MA membatalkan putusan Pengadilan Tinggi DKI Jakarta yang menjatuhkan eksekusi 15 tahun pidana penjara dan denda Rp 1 miliar subsider 3 bulan kurungan terhadap Syafruddin.

BACA JUGA:  Gempa 4,2 SR Guncang Luwu Utara Sulsel

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here