Membakar Sampah Plastik Bukan Solusi yang Tepat

0
36

Membakar Sampah Plastik Bukan Solusi yang Tepat
Tidak sedikit barang-barang yang kita gunakan sehari-hari berbahan dasar plastik, mirip helm sepeda, botol, rak sepatu, dan sampai kantong plastik. Pernahkah terpikir, bagaimana jikalau barang-barang tersebut kita buang atau menggantinya dengan barang berbahan serupa? Apakah sampah plastik mampu terurai dengan cepat?

Lebih dari 99 persen plastik terbuat dari materi kimia petrokimia yang biasanya terbuat dari minyak bumi dan gas alam. Bahan baku tersebut disuling semoga membentuk etilena, propilena, butena dan materi dasar lain sebelum diangkut ke pabrik.

Dalam produksi dan transportasi bahan-bahan plastik diharapkan banyak energi dan materi bakar. Emisi gas rumah beling terjadi selama proses pembuatan plastik tersebut. Proses itu melibatkan “pemecahan” hidrokarbon yang lebih besar dari petrokimia, kemudian menjadi lebih kecil sampai cocok menciptakan plastik yang melepaskan karbon dioksida dan metana.

Berdasarkan penelitian, sekitar 61 persen dari total emisi gas rumah beling plastik berasal dari tahap produksi dan transportasi resin.

Sementara 30 persen lainnya dikeluarkan pada tahap pembuatan produk plastik. Sebagian besar emisi tersebut berasal dari energi yang diharapkan untuk memberi daya pada pabrik yang mengubah materi plastik mentah menjadi kantong sampah, botol dan helm sepeda yang biasa kita digunakan.

Sisa emisi tersebut dihasilkan selama proses kimia dan pembuatan mirip produksi styrofoam memakai hidrofluorokarbon (HFC) gas yang digunakan dalam pendingin ruangan dan lemari es yang merupakan gas rumah beling yang kuat.

Akhirnya, jejak karbon dari plastik selalu ada dikala dibuang. Jika dibakar, sampah plastik melepaskan semua karbon yang tersimpan ke udara, serta polutan udara mirip dioksin, furan, merkuri dan bifenil poliklorinasi yang beracun dan akan merusak kesehatan manusia. Hal itu sebab plastik membutuhkan waktu berabad-abad untuk terurai.

BACA JUGA:  Bogor Hujan Lebat, Ciliwung dan Cisadane Siaga Banjir

Secara teori, pembuangan plastik dalam Tempat Pembuangan Akhir (TPA) hanya menghasilkan gas emisi yang kecil. Namun, sebanyak 40 persen limbah TPA yang dibakar secara terbuka, maka mempercepat pelepasan karbon yang terkurung.

Penelitian berhasil menghitung dalam seluruh siklus hidupnya, plastik menyumbang 3,8 persen dari emisi gas rumah beling secara global. Angka tersebut berarti hampir dua kali lipat dari emisi sektor penerbangan. Jika plastik ialah sebuah negara,”Kerajaan Plastik” akan menjadi penghasil emisi tertinggi kelima di dunia.

380 juta ton per tahun memproduksi plastik 190 kali lebih banyak daripada yang kita lakukan pada 1950. Jika seruan plastik terus meningkat secara konsisten empat persen per tahun, emisi dari produksi plastik akan mencapai 15 persen dari emisi global pada 2050.

Oleh sebab itu, mulai dari kini kita mulai mengurangi penggunaan plastik dalam kebutuhan sehari-hari. Mungkin mampu mengganti barang berbahan plastik dengan materi lain yang lebih ramah lingkungan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here