Mengarungi Pesona Kepulauan Tanpa Gerbang

0
42
Mengarungi Pesona Kepulauan Tanpa Gerbang
Mengarungi Pesona Kepulauan Tanpa Gerbang

Mengarungi Pesona Kepulauan Tanpa Gerbang
TAK semua wilayah Jakarta laksana lautan kendaraan penyebab polusi dan kemacetan. Masih ada Kepulauan Seribu yang menunjukkan kisah indah: hening dan tenang bersama begitu banyak pesona alam yang menghiasi lautan nyata.

Bahkan, perbedaan itu sudah terasa begitu tiba di dermaga Marina, Ancol, Jakarta Utara, ketika disambut belaian angin bahari sepoi-sepoi. Atmosfer yang sama juga terasa di Muara Angke dan Kali Adem.

“Ketiga pelabuhan ini melayani pelayaran ke banyak sekali daerah di Kepulauan Seribu,” kata Bupati Kepulauan Seribu.

Hanya saja, suasana Jakarta itu masih terasa begitu melongok ke air bahari di tiga pelabuhan yang keruh terkotori aneka sampah dan limbah. Setelah kapal beranjak menjauhi dermaga, lautan tampak semakin jernih. Ini menjadi menandakan memasuki Kepulauan Seribu yang tanpa gerbang itu.

Lautan yang membentang selama berlayar yaitu daerah perairan dan daratan pulau yang membujur dari Pulau Sebira–sebelah utara–ke arah tenggara di Teluk Jakarta.

Terletak di sebelah utara Teluk Jakarta, wilayah Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu seluas 869,61 hektare yang berupa pulau-pulau kecil yang bertabur di perairan DKI Jakarta yang mencapai 6.997,50 kilometer persegi (699.750 hektare).

Secara geografis, kepulauan ini berada pada satu daerah pelayaran bahari yang mempunyai tiga arah, yaitu pertama, perairan Bangka Belitung bagi Selat Malaka dan Laut Cina Selatan, dan kedua, Selat Sunda bagi Samudera Hindia, serta ketiga, yaitu Laut Jawa yang dari arah timur.

Hingga ketika ini, perairan Kepulauan Seribu merupakan belahan dari jalur pelayaran internasional lintas Australia.

Di jalur itulah speedboat mengarungi bahari menuju sentra Kabupaten Kepulauan Seribu, Pulau Pramuka. Sepanjang berlayar hanya ada keindahan laksana lukisan. Cahaya matahari menerpa punggung bahari bergelombang mengayun bahtera nelayan yang ditingkahi burung melayang di udara.

Perlahan boat merapat ke pelabuhan Pulau Pramuka. Di sini ada tiga dermaga, yang paling kiri yaitu tempat pelelangan ikan (TPI), di sebelah kanannya di depan rumah sakit yaitu terminal utama pelabuhan tempat naik turun penumpang, kemudian sempurna di depan Kantor Bupati Kepulauan Seribu ada satu lagi dermaga untuk sandar kapal pemerintahan.

Pelabuhan Pulau Pramuka hanya aktif dari pukul 6.30 pagi hingga pukul 17.00 sore. Dimulai dengan hiruk-pikuk bahtera dan kapal pengangkut anak sekolah dari pulau lain, kemudian dilanjutkan dengan kapal penumpang yang bersandar dan berakhir sore hari.

Tanpa Polusi
Waktu mirip bergerak lambat di Pulau Pramuka. Tanpa hiruk pikuk dan sepi dari kebisingan. Tentu tanpa polusi. Di sini tak ada mobil. Beberapa sepeda motor berseliweran tak begitu berguna, dan sepeda dikayuh seadanya, alasannya yaitu mengelilingi pulau seluas 16,73 hektare ini cukup dengan berjalan kaki.

Menurut sejumlah literatur, Pulau Pramuka ini sebelumnya berjulukan Pulau Lang (Elang), alasannya yaitu di sinilah habitat burung elang bondol yang kini menjadi lambang DKI Jakarta. Sejak 1980, elang-elang menghilang dan berganti menjadi permukiman penduduk yang padat.

Belakangan nama pulau ini berganti menjadi Pulau Pramuka lantaran memang para anggota pramuka berlatih di sini sebelum ada Bumi Perkemahan Cibubur di Jakarta pada masa 1950-1970.

Kemudian menjadi sentra pemerintahan kabupaten semenjak 2003, tepatnya empat tahun sesudah Kecamatan Kepulauan Seribu ditingkatkan statusnya menjadi kabupaten administratif sesuai Undang-Undang Nomor 34 Tahun 1999 dan Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2001 perihal Pembentukan Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu.

Ketika tim liputan BeritaSatu.com berkunjung, Pulau Pramuka sudah dipadati penduduk. Kendati sebagai sentra kabupaten, tetapi di sini tak ada pasar. Bahkan, tak satu pun ruko ada di sini. Hanya rumah-rumah penduduk yang difungsikan menjadi warung dan kios-kios kecil di pelabuhan.

Suasananya mirip kompleks perumahan yang tertata tertata rapi dan bersih. Dilengkapi masjid, rumah sakit, kantor pos, sekolah, dermaga, TPI, vila, dan penginapan bagi pengunjung wisata. Terdapat sembilan sarana pendidikan berjenjang, dari taman kanak-kanak hingga sekolah menengah atas.

BACA JUGA:  PSI: BPN Jangan Bodohi Masyarakat Soal TI KPU

Lahan hijau di sebelah kiri pulau menjadi sentra acara masyarakat untuk mengolah sampah dan menanam pohon. Juga terdapat sarana pelestarian penyu sisik. Selain itu, ada pula penanaman bakau yang ditata apik dan ramai dikunjungi wisatawan.

Dari Pulau Pramuka inilah Kabupaten Kepulauan Seribu dikendalikan. Husein Murad tercatat sebagai bupati ke-10 yang mengelola 110 pulau di Kepulauan Seribu. Ia dilantik Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan pada 5 Juli 2018.

Tak semua pulau berpenghuni. Penduduk yang berjumlah sekitar 25.000 jiwa hanya mengisi 11 pulau. Selebihnya yaitu pulau wisata dan karang. Warga Pulau Pramuka melakoni pekerjaan sebagai nelayan dari Senin hingga Jumat. Sedangkan Sabtu-Minggu, mereka bersalin rupa menjadi pemandu wisata dan menyewakan perahunya untuk wisatawan.

Kawasan Wisata
Sebetulnya, daerah Kepulauan Seribu bergerak ke arah daerah wisata bahkan menjadi salah satu dari 10 destinasi wisata prioritas atau biasa disebut “10 Bali Baru” yang ditetapkan pemerintah semenjak 2016.

“Saat ini banyak penduduk beralih profesi–atau setidaknya berprofesi ganda–dari nelayan menjadi pelaku perjuangan wisata, mirip membuka homestay, menjadi pemandu wisata, dan menyewakan bahtera ikan untuk mengantar wisatawan ke titik destinasi,” kata Bupati Husein.

Berkaitan dengan wisata, maka sikap higienis menjadi poin penting Husein. Di titik ini, ia telah bisa menciptakan penduduk Kepulauan Seribu menjadi sangat sadar kebersihan.

Masalah justru tiba dari para wisatawan yang tiba dari Jakarta dan sekitarnya. Mereka membuang sampah sembarangan dan mencampakkan kemasan minuman ke dalam lautan yang jernih. Wargalah yang kemudian membersihkannya.

Untuk meningkatkan kualitas dunia wisata di Kepulauan Seribu, Husein sedang mengupayakan semoga pemandu wisata bisa menguasai bahasa asing. “Minimal bahasa Inggris dan bahasa Mandarin. Sebab pengunjung dari Tiongkok makin hari kian bertambah,” katanya. Rencana ini sedang digodoknya.

Selain itu, Husein juga mengawinkan kebijaksanaan daya kelautan dengan pariwisata. Alasannya, katanya, kebijaksanaan daya kelautan lebih ramah lingkungan ketimbang pekerjaan nelayan tangkap.

“Laut yang indah, maka wisatawan betah. Wisatawan tertarik tiba menyelam menikmati keindahan bawah laut,” katanya.

Saat ini, ia juga menyebarkan pertanian rumput bahari (seaweed). Ia rajin berenang untuk melihat perkembangan para petani rumput bahari di Kepulauan Seribu.

Pengembangan kebijaksanaan daya rumput bahari ini dinilai sanggup melestarikan lingkungan kelautan, alasannya yaitu rumput bahari membutuhkan nutrien yang berasal dari air di terumbu karang yang mempunyai kemampuan menstabilkan nutrien.

Ternyata Husein bukan hanya berteori. Ia sendiri sering nyemplung ke dalam bahari di pagi hari untuk memantau tempat kebijaksanaan daya kelautan. Tak lupa ia merekam video dan mempromosikannya semoga menerima derma pemerintah dan tentu saja ini menjadi belahan dari acara wisata itu sendiri.

Sambutan Baik
Program pemerintah itu sepertinya menerima sambutan baik dari masyarakatnya. Misalnya, Muhibi, seorang nelayan yang sangat memperhatikan keindahan bahari dan kebersihan pulau. “Secara pembangunan sudah dilaksanakan secara sedikit demi sedikit dan dirasakan oleh masyarakat,” katanya.

Menurut Muhibi, hanya segelintir masyarakat saja yang masih belum sadar pentingnya kebersihan. “Beberapa juga belum sadar pentingnya merawat karang untuk keindahan. Nelayan-nelayan dari luar pulau masih ada yang berperilaku merusak laut. Perlu kesadaran masyarakat yang menyeluruh,” katanya.

Pendapat yang sama disampaikan Baby Widyafatika, pengelola sebuah rumah penginapan di Pulau Pramuka. Ia mengatakan, wisatawan yang tiba ke Kepulauan Seribu yaitu yang suka pada keindahan alam.

“Sebab itu, perawatan lingkungan dan kebersihannya menjadi belahan yang sangat penting.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here