Dinamika Anak Pulau Sahabat Laut

0
44
Dinamika Anak Pulau Sahabat Laut
Dinamika Anak Pulau Sahabat Laut

Dinamika Anak Pulau Sahabat Laut
PERAHU nelayan merambat meninggalkan pelabuhan Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu. Ombak malas mengayun melenakan. Sejauh mata memandang hanya terlihat lautan lepas mengapungkan pulau-pulau kecil di atasnya.

Langit biru berhias awan putih yang melayang bergerak pelan. Matahari sangat terik pada petang awal Agustus lalu. Sinarnya menghujam beningnya bahari hingga terlihat bermacam-macam jenis ikan sedang mencandai karang.

Sementara Bahrun mengendalikan kemudi bahtera dengan telapak kakinya. Pria 54 tahun yang bersahabat disapa Belung ini bukan sedang pamer keahlian. Ia jengkel karena kesepakatan karet wisatawan dari Jakarta yang menyewa perahunya.

“Terlambat dua jam. Seharusnya saya bisa sanggup uang Rp 700.000. Begitulah wisatawan lokal, memang suka molor. Berbeda dengan wisatawan asing, sebelum saya hingga pelabuhan, mereka sudah menunggu,” kata Belung dengan wajah ditekuk.

Omelan kecil Belung mewarnai raungan mesin perahunya yang terbatuk-batuk. Namun, tak mengurangi semangatnya melayani wisatawan. Ia serius mencari tempat terbaik menikmati alam bawah laut. “Datang dari jauh, mereka ingin menikmati keindahan alam di sini,” katanya.

Keindahan Karang
Di hidung perahu, anak muda itu duduk memandang tajam dalam laut. Melongok kiri dan kanan, dialah kompas hidup pengarah Belung. Namanya Aries. Berusia 18 tahun, ia putra sang nakhoda kaki. Belung menyebut, nama anaknya dan namanya memang satu suku kata.

Di satu titik, Aries minta laju bahtera diperlambat. Pemuda berkulit legam dibakar matahari itu terjun ke bahari dan menghilang, kemudian muncul tak jauh dari perahu. Ia menyampaikan sudah menemukan tempat yang pas bermain bersama ikan dan karang-karang laut.

Semua penumpang bahtera yang berjumlah 10 orang bersalin pakaian renang. Lalu membuka tong yang berada di atas lambung bahtera dan mengambil perangkat snorkeling. Selanjutnya, semuanya terjun menikmati alam bawah laut.

Walau berada di tengah laut, mereka tak ada yang tenggelam. Bahkan bisa berdiri, seperti berada di bahari yang dangkal yang air cuma sebatas leher. Ternyata mereka menjejakkan kaki di atas karang-karang laut. Rupanya, lokasi yang mirip inilah yang dicari ayah dan anak ini untuk tamu wisatawannya.

Belung menyampaikan lokasi menyelam ini masuk tempat perairan Pulau Panggang yang memang tetangga Pulau Pramuka.

“Lokasi ini yang dekat kita jangkau karena telah sore. Sebetulnya sangat banyak tempat yang lebih bagus,” katanya.

Kalimat Belung tak berlebihan. Kepulauan Seribu kaya akan keindahan bawah lautnya. Selain di tempat Pulau Galang dan Pulau Pramuka, hampir seluruh perairan Kepulauan Seribu menyimpan kekayaan bawah bahari yang menawan.

Perairan Pulau Panggang ini masuk tempat Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu. Dasar hukumya ialah Surat Keputusan Menhut Nomor 8310/Kpts-II/2002, tanggal 13 Juni 2002. Status yang sama juga berlaku untuk Pulau Kelapa, dan Pulau Harapan. Semuanya berada di Kecamatan Kepulauan Seribu Utara.

Adapun luasnya mencapai 107.489 hektare (22,65 persen dari luas perairan Kepulauan Seribu) dan pulau (Pulau Penjaliran Barat dan Pulau Penjaliran Timur) seluas 39,50 hektare.

Di sinilah terdapat kehidupan bahari berupa 54 jenis karang keras dan karang lunak, 144 jenis ikan, dua jenis kima, serta tiga kelompok ganggang, mirip rhodophyta, chlorophyta, dan phaeophyta. Selain itu ada juga enam jenis rumput laut, mirip halodule sp, halophila sp, dan enhalus sp.

BACA JUGA:  Transjakarta Gratiskan Armada ke Tempat Wisata

Selain tiga tempat itu, adalagi Pulau Puteri yang mempunyai akuarium ikan hias dan akuarium bawah laut. Perairan pulau seluas 8 hektare ini cocok untuk berenang, snorkeling, dan menyelam. Di sini juga ada akomodasi akuarium bawah bahari dan kapal bawah air.

Karakter yang sama ada juga di Pulau Sepa. Bahkan dari pulau ini bisa berkeliling ke Pulau Karang Athol, Pulau Dolphin, Pulau Gosong. Begitu juga dengan Pulau Kotok, Pulau Papa Theo, Pulau Peniki, Pulau Matahari, Pulau Gosong, Pulau Semak Daun, dan Pulau Pantara.

Hanya saja pulau-pulau di luar tempat taman nasional, kebanyakan dimiliki oleh perorangan, sehingga untuk masuk ke dalam pun mempunyai “protokoler” tersendiri.

“Tidak bebas. Saya lebih suka mengantar tamu ke tempat pulau yang dikelola masyarakat saja,” kata Belung.

Belum usai bercerita, tiba-tiba Belung membuka pakaian hingga tinggal celana pendek.

“Mau ikutan berenang?”

“Bukan, saya mau buang air kecil,” katanya sambil menyeburkan diri. Sebentar saja. Ia naik lagi ke perahu.

“Sudah sore, kita harus pulang, jangan kemalaman,” katanya sambil menunjuk ke arah matahari yang sudah berubah warna kemerahan. Semua wisawatan naik ke perahu, sejenak menikmati pergerakan matahari meninggalkan senja.

Mengarungi Laut ke Sekolah
Begitu cahaya matahari bersinar remang di ufuk barat, Aries sudah berkemas hendak berangkat ke sekolah. Bermukim bersama orangtuanya di Pulau Panggang, menciptakan Aries harus menyeberang bahari ke Pulau Pramuka. Sebab, satu-satunya Sekolah Menengan Atas negeri di Kepulauan Seribu hanya ada di Pulau Pramuka.

Di Pelabuhan Pulau Panggang, sudah menanti sejumlah bahtera mesin yang mengangkut bawah umur sekolah. Selain itu, ada satu unit kapal sekolah yang disediakan pemerintah untuk antar jemput. Tentu kapal itu tak bisa menampung jumlah bawah umur sekolah di sini.

Itu sebabnya, Aries mengatakan, hanya sesekali saja ia bisa menumpang kapal sekolah. “Kami lebih banyak naik perahu,” katanya.

Anak-anak bersekolah naik bahtera menjadi pemandangan unik di Pulau Pramuka di setiap pagi dan sore hari.

Kebanyakan mereka, mirip Aries, sering membantu orangtuanya di hari libur. “Setiap Sabtu dan Minggu, juga hari libur, saya membantu bapak memandu tamu wisatawan, khususnya snorkeling dan hanya sesekali menyelam,” katanya.

Sedangkan hari biasa, Aries bersekolah dan Belung melaut mencari ikan. Itulah rezeki bersahabat dengan laut. Belung menghidupi istri dan tiga anaknya, termasuk si sulung Aries.

Bersekolah menjadi motivasi Aries mengubah kehidupan keluarganya menjadi lebih baik, tetapi tetap dengan lautan. “Selain bekerja, saya juga mau jadi pemandu wisata yang lebih baik,” katanya.

Pemandu wisata yang manis berdasarkan Aries ialah mengenal lautan dan seluruh isi alam di Kepulauan Seribu serta didukung kemampuan berbahasa Inggris dan Mandarin. Semoga.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here