Sri Mulyani Sindir Tingginya Komisi Perbankan Dibanding Fintech

0
14
Sri Mulyani Sindir Tingginya Komisi Perbankan Dibanding Fintech
Sri Mulyani Sindir Tingginya Komisi Perbankan Dibanding Fintech

Sri Mulyani Sindir Tingginya Komisi Perbankan Dibanding Fintech
Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati sempat melontarkan sindirian mengenai tingginya komisi (fee) yang dipungut perbankan sebagai forum persepsi untuk setoran penerimaan negara, dibanding komisi yang diminta perusahaan finansial berbasis teknologi (fintech).

Dalam sambutannya ketika meluncurkan Modul Penerimaan Negara Generasi Tiga (MPN G3) di Jakarta, Jumat (23/8/2019) Bendahara Negara itu menegaskan akan menekan perbankan biar mau menurunkan tarif komisinya. “Sekarang ada Bukalapak, Tokopedia. Itu mereka jadi kawan kami. Saya bahagia tadi dibisiki sama fintech bahwa komisinya lebih kecil dari bank. Nah saya akan tekan bank,” ujar Sri Mulyani.

Sayangnya, Sri Mulyani tidak merinci perbandingan tarif komisi yang diminta perbankan dan fintech dalam mengelola setoran penerimaan negara tersebut. “Menteri Keuangan memang begitu. Kalau bisa menawar, menawar terus Kaprikornus ini akan memperlihatkan tekanan ke perbankan bahwa ‘hei teknologi sudah datang, kalian harus turunkan biaya’,” ujar Ani, sapaan akrabnya.

Dalam Modul Penerimaan Negara Generasi Tiga (MPN G3) atau sebuah portal elektronik gres untuk mendapatkan semua setoran penerimaan negara, Kementerian Keuangan memang melibatkan forum persepsi gres dari industri fintech yakni Bukalapak, Tokopedia, dan PT Finnet Indonesia. Sebelumnya otoritas fiskal lebih banyak menggandeng bank umum untuk mengelola penerimaan negara.

Meskipun melibatkan fintech yang tergolong industri gres dibanding perbankan, Sri Mulyani meminta Bukalapak, Tokopedia, dan PT Finnet Indonesia untuk meningkatkan kapasitasnya dalam segi keamanan dan layanan teknologi informatika.

“Ketika bayar, akseptor pajak pribadi sanggup pesan elektronik dan SMS. Itu lebih bagus, aman, dan tidak akan hilang kertasnya. Maka itu, kini bila ada pesan elektronik dan SMS dari Kementerian Keuangan, jangan dihapus. Itu bukti atau tagihannya,” ujar Sri Mulyani Indrawati.

BACA JUGA:  Sepeda Motor Listrik Indonesia Diproduksi Massal Desember

Dengan bergabungnya fintech di MPN G3 ini, setoran penerimaan negara sanggup melalui layanan dompet elektronik, transfer bank, rekening virtual (virtual account), dan kartu kredit yang dilaksanakan oleh biro penerimaan forum persepsi lainnya mirip sentra niaga daring (e-commerce), penjual ritel, dan perusahaan finansial berbasis teknologi (fintech).

Modul Penerimaan Negara Generasi Ketiga (MPN G3) ini mempunyai kemampuan mendapatkan setoran penerimaan negara sampai 1.000 transaksi per detik atau meningkat signifikan dari modul sebelumnya yakni MPN G2 yang hanya 60 transaksi per detik.

Sebagai gambaran, dengan MPN G3 ini, setiap penyetor penerimaan negara sanggup mengakses satu portal penerimaan negara (single sign-on) biar bisa mendapatkan arahan billing untuk seluruh jenis penerimaan negara. Kemudian arahan biling itu menjadi akun untuk menyetor penerimaan negara. “Ini yaitu sebuah fasilitas bagi penyetor dibandingkan harus mengakses portal yang berbeda untuk jenis penerimaan negara yang berbeda. Modernisasi sistem penerimaan negara dan pengelolaan APBN ini harus dilakukan,” ujar Sri Mulyani.

Modernisasi APBN ini, ujar Sri Mulyani, dilakukan untuk meningkatkan kolektibilitas penerimaan negara, memudahkan penyetor untuk memenuhi kewajibannya, dan mengadaptasi perubahan teknologi informasi.

MPN merupakan salah satu sistem utama di Kemkeu. Pada 2018, dari Rp 2.064 triliun penerimaan negara, Rp 1.904 triliun disetor melalui MPN, atau sekitar 92 persen. Sisanya berasal dari pecahan Surat Perintah Membayar dan setoran pribadi ke rekening kas negara. MPN juga memproses 95,1 juta transaksi yang mencakup 94,9 juta transaksi dan 174.000 transaksi dalam dolar Amerika Serikat. Hingga 15 Agustus 2019, MPN telah memproses setoran penerimaan negara sebanyak 58,3 juta transaksi pada sebanyak 83 bank/pos persepsi kawan MPN.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here