Gundala, Era Baru Superhero Indonesia

0
16
Gundala
Gundala

Gundala, Era Baru Superhero Indonesia
Gundala, film pahlawan lokal Indonesia yang telah usang dinanti risikonya hadir menghibur negeri pada hari ini, Kamis (29/8). Digarap oleh sutradara ternama Joko Anwar, film ini merupakan film pembiasaan komik Gundala Putra Petir karangan, Harya Suraminata.

Film Gundala dimulai dari dongeng Sancaka kecil (Muzakki Ramadhan) yang hidup di jalanan semenjak orang tuanya meninggalkannya. Menjalani kehidupan yang berat, ia memikirkan keselamatannya sendiri untuk bertahan hidup, meski banyak ketidakadilan yang ia lihat seorang diri.

Ketika keadaan kota makin jelek dan ketidakadilan berkecamuk di seluruh penjuru, Sancaka, yang diperankan oleh Abimana Aryasatya, telah tumbuh remaja harus menetapkan pilihannya. Apakah ia terus hidup menjaga dirinya sendiri atau bangun menjadi pahlawan bagi mereka yang tertindas?

Rupanya, semesta lebih mendukung Sancaka untuk bangun dan memberantas ketidakadilan di lingkungan sekitarnya. Suara dan cahaya petir yang selama ini ia takuti rupanya memberi Sancaka sebuah kekuatan super. Mulai dari sinilah petualangan Sancaka, mempertaruhkan diri untuk memberantas musuh-musuhnya. Salah satunya adalah, seorang durjana berbahaya berjulukan Pengkor (Bront Palarae).

Dalam genggaman kreatif Joko Anwar, film ini tidak sekadar menghadirkan hiburan yang jauh dari angan dan penuh imajinatif tinggi mirip yang berada dalam komik. Namun, Joko lebih menentukan menelusuri catatan karya lain dari Hasmi, sampai risikonya ia mencoba mengubah sedikit haluan dilema dalam cerita.

Salah satu yang paling terlihat yaitu latar belakang pekerjaan Sancaka. Dalam komik, laki-laki bertubuh gagah itu yaitu seorang ilmuan yang mempunyai kecerdasan yang tinggi. Sedangkan dalam film ini, Sancaka digambarkan rakyat biasa yang bekerja menjadi seorang security pabrik percetakan.

Namun penonton tidak perlu khawatir, bukan tanpa alasan Joko Anwar mengubah nasib perjalanan hidup Sancaka. Bukan untuk menerima kisah yang dramatik dan penuh dengan kesengsaraan, tetapi ketika melihat film ini secara utuh barulah diketahui, ternyata Joko ingin semoga Gundala menjadi pahlawan yang membumi dan mampu diterima semua lapisan masyarakat.

Alhasil, latar belakang dongeng film Gundala tidak jauh dari dilema yang dihadapi Indonesia ketika ini dengan segala dilematik sosial, budaya, dan politik. Joko memang tidak bicara ihwal masa di mana sosok jagoan berhasil memerangi alien, tetapi film ini justru terlihat lebih menarik dan inspiratif ketika formula kesederhanaan ini berhasil diracik dengan baik.

Kesederhanaan juga terlihat dari latar daerah dongeng dan visual imbas yang dibuat. Memang hal yang tidak mungkin apabila Joko ingin membangun pengalaman menonton yang megah mirip halnya terlihat dalam film-film blockbuster Hollywood dengan biaya produksi selangit.

Kembali memanfaatkan kreativitas timnya, ia lebih menentukan memakai imbas yang lebih mudah dan organik. Jika Hollywood syuting pakai green screen, maka Gundala cari lokasi orisinil untuk membuat visual yang senyata dan sedekat mungkin. Kemudian bila saatnya fight scene dimulai, Joko lebih menentukan pemainnya untuk melaksanakan adegan tersebut secara langsung, tanpa imbas CGI yang rumit.

BACA JUGA:  Child’s Play, Boneka Chucky Canggih Pembawa Dendam

Untuk itulah,bela diri setiap pemain dipertaruhkan dalam film ini. Sebagian besar pemain yang terpilih memang terlihat mahir ketika adegan bertaruh, sebut saja Cecep Arif Rahman. Ia berhasil membuat mata penonton tak berkedip dengan segala jurus yang ia kuasai.

Namun dalam kesempatan yang sama, tidak sedikit pula pemain yang telah dinanti akan menawarkan tontonan pergulatan yang memukau, tetapi justru membuat penonton mengerutkan dahi alasannya sangat terlihat kaku, tidak kalah dengan para pemain extra yang hanya mampu berlarian dan membuat keributan.

Meski demikian, secara keseluruhan film ini layak menjadi pembangkit kembali film berkelahi dan pahlawan super di Indonesia yang sempat tertidur pulas dalam waktu lama. Film ini juga dibentuk dengan kondusif oleh Joko Anwar, sehingga mampu ditonton oleh keluarga Indonesia.

Pahlawan Pembuka
Film ini merupakan pembuka jagat Bumilangit Cinematic Universe (BCU). Nantinya akan ada formasi jagoan lain yang muncul. Para abjad dan pemain film BCU jilid satu telah diperkenalkan oleh Bumilangit dan Screenplay beberapa waktu lalu.

Diketahui, sesudah Gundala, pahlawan selanjutnya yang akan menyapa penonton Indonesia yaitu Sri Asih. Menurut Produser Screenplay Pictures, Wicky V. Olindo, sosok Sri Asih yaitu pahlawan yang mampu mewakili kekuatan kaum wanita.

“Kita ingin ada pergantian dari Gundala dan kita inginnya perempuan dan Sri Asih ini akan mewakilinya. Kalau kita eksklusif lompat ke Godam, tidak akan ada variasi yang beda. Kaprikornus Sri Asih dulu gres Godam,” kata Wicky.

Saat ini, Screenplay sedang melaksanakan persiapan untuk pembuatan film Sri Asih yang rencananya akan tayang pada 2020. Meski belum banyak dibocorkan persiapannya, tetapi ketika ini diketahui Pevita sedang mempersiapkan diri dengan melaksanakan banyak sekali latihan bela diri bersama Uwais Tim.

Selain Sri Asih, beberapa pahlawan super yang telah dibocorkan namanya yaitu Aquanus (Nicholas Saputra), Gundala (Abimana Aryasatya), Cempaka (Vanesha Prescilla), Nila Umaya (Della Dartyan), Ghani Zulham (Ario Bayu), Ridwan Bahri (Lukman Sardi), Pengkor (Bront Palarae), Dewi Api (Dian Sastro), Sunbulat (Zara JKT48).

Selanjutnya, Mustika Sang Kolektor (Tatjana Saphira), Godam (Chico Jerikho), Sri Asih (Pevita Pearce), Tira (Chelsea Islan), Merpati (Tara Basro), Desti Nikita (Asmara Abigail), Camar (Hannah Al Rashid), Tanto Ginanjar (Daniel Adnan), Bidadari Mata Elang (Kelly Tandiono), dan Mandala (Joe Taslim).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here