Indonesia dan Maroko Kerja Sama Tanggulangi Terorisme

0
5

Indonesia dan Maroko Kerja Sama Tanggulangi Terorisme
Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan Kementerian Dalam Negeri Kerajaan Maroko melaksanakan kolaborasi bidang penanggulangan terorisme.

Menurut Kepala BNPT Suhardi Alius, kolaborasi tersebut akan meliputi acara pencegahan maupun penindakan terorisme yang mampu dilakukan kedua negara, termasuk dalam menangani duduk perkara pejuang teroris ajaib (foreign terrorist fighters/FTF).

“Kita tahu mereka cukup banyak mengalami duduk perkara terkait radikalisme dan terorisme. Bahkan mereka punya sekitar 700 FTF di Suriah, sementara kita punya lebih dari 500 (FTF),” kata Suhardi seusai menandatangani nota kesepahaman (MoU) kolaborasi tersebut dengan Menteri Luar Negeri Maroko Nasser Bourita di Gedung Pancasila, Jakarta, Senin (28/10/2019).

BNPT dengan kementerian dan forum terkait, akan menindaklanjuti kolaborasi tersebut melalui pertukaran informasi dan acara dengan otoritas Maroko.

Selain dengan BNPT, pemerintah Maroko juga menandatangani MoU kolaborasi pertukaran informasi intelijen keuangan terkait pembersihan uang dan pendanaan terorisme dengan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK).

Menurut Suhardi, masing-masing negara mempunyai kelebihan dalam acara penanggulangan terorisme, yang mampu dikerjasamakan.

Selain itu, kedua negara juga akan bertukar pandangan dalam menangani isu-isu terkait radikalisme dan terorisme yang hingga sekarang belum terselesaikan, misalnya dalam menyangkut FTF di Suriah.

Sama mirip di Indonesia, kata Suhardi, di Maroko hingga dikala ini belum ada keputusan politik untuk menangani warga negaranya yang menjadi FTF di Suriah.

“Kan ada kesamaan, sesudah (FTF) ada di sana apakah akan tetap (dibiarkan) di sana atau kembali ke negara masing-masing. Kan hingga dikala ini belum ada keputusan politik di Maroko untuk bagaimana menangani itu semua,” tutur Suhardi.

Menurut data yang dirilis Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC), hingga September 2017 diperkirakan terdapat 574 warga negara Indonesia (WNI) yang bergabung dengan kelompok bekerjasama ISIS.

BACA JUGA:  Anthony Ginting Gagal Taklukkan Shi Yuqi

Sediktnya, 97 orang di antara jumlah itu dinyatakan tewas, 66 dilarang dikala akan meninggalkan Indonesia, dan lebih dari 500 orang dideportasi.

Di lain pihak, data yang dihimpun oleh International Center for Counter Terrorism (ICCT), Kapolri Tito Karnavian mengungkapkan bahwa pada Mei 2018 terdapat sekitar 500 WNI yang masih berada di Suriah dan Irak. Adapun 500 orang telah kembali ke Tanah Air, dan sekitar 103 orang diperkirakan tewas akhir konfrontasi di wilayah tersebut.

Hingga kini, Pemerintah Indonesia yang dikoordinasi oleh Kementerian Koordinator bidang Politik, Hukum, dan Keamanan belum menetapkan kebijakan apa yang akan dilakukan terkait para simpatisan dan FTF ISIS tersebut, alasannya adalah masih menimbang tiga aspek ialah kemanusiaan, keamanan, serta penegakan hukum.

Dalam kesempatan tersebut Menlu Retno LP Marsudi menyampaikan, pihaknya menyambut baik pertemuan antara Indonesia dan Maroko terkait penanggulangan terorisme ini.

“Sebagai dua negara Muslim, kita berkomitmen untuk mempromosikan wajah Islam yang moderat, toleran, dan Islam yang rahmatan lil alamin,” ujar Retno.

Menlu Maroko, Nasser Bourita juga menyampaikan, kolaborasi ini akan makin memperkuat korelasi kedua negara yang telah terjalin semenjak lama.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here